BeritaDaerahPendidikan

Tempuh 180 Kilometer, Nur Ahmadi Raih IPK 4,00 dan Jadi Lulusan Terbaik Magister Hukum Unira

891
×

Tempuh 180 Kilometer, Nur Ahmadi Raih IPK 4,00 dan Jadi Lulusan Terbaik Magister Hukum Unira

Sebarkan artikel ini
Nur Ahmadi, lulusan terbaik Magister Hukum Unira dengan IPK 4,00, usai mengikuti prosesi yudisium. Foto/Ist.

PAMEKASAN, KLIKTIMES.ID – Perjalanan panjang menuju kampus menjadi bagian dari perjuangan Nur Ahmadi selama menempuh pendidikan Magister Hukum di Universitas Madura (Unira), Pamekasan.

Pria yang berprofesi sebagai advokat itu harus menempuh perjalanan sekitar 90 kilometer dari rumahnya di Dusun Tlagah Timur, Desa Tlagah, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, menuju kampus.

Dengan demikian, setiap kali mengikuti perkuliahan, Nur Ahmadi harus menempuh sekitar 180 kilometer perjalanan pulang-pergi. Bahkan, pada awal masa perkuliahan yang berlangsung tatap muka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu, ia memilih berangkat sebelum subuh demi menghindari keterlambatan.

“Kalau saya berangkat setelah subuh, khawatir karena pasar-pasar tradisional di kecamatan kadang macet. Jadi, biar tidak terlambat saya berangkat sebelum subuh,” ujar Ahmadi seusai prosesi yudisium, Sabtu (22/8/2026).

Mahasiswa angkatan 2024 tersebut juga harus pandai membagi waktu antara kuliah, pekerjaan sebagai praktisi hukum, dan keluarga. Sebagai ayah tiga anak, ia mengaku melanjutkan pendidikan merupakan bagian dari upayanya memperdalam keilmuan yang berkaitan dengan profesinya sebagai advokat.

“Kalau kita sudah membulatkan tekad untuk menimba ilmu, ya harus serius dan betul-betul ditekuni. Tentunya juga dengan berdoa dan dukungan dari istri, orang tua, serta keluarga,” katanya.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Nur Ahmadi berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Hukum dengan IPK 4,00 sekaligus meraih predikat sebagai lulusan terbaik.

Meski demikian, ia mengaku tidak pernah secara khusus mengejar predikat tersebut. Baginya, tujuan utama melanjutkan pendidikan adalah mendapatkan ilmu dan pemahaman yang lebih mendalam.

“Yang penting saya maksimal dalam kuliah untuk mendapatkan ilmu yang benar-benar mendalam. Soal nilai terbaik atau bagaimana, itu tidak terlalu saya pikirkan,” ujarnya.

Pria kelahiran Sampang, 5 Maret 1981, itu berharap kisah perjuangannya dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk tidak takut memiliki cita-cita, meski harus menghadapi kesibukan maupun berbagai keterbatasan.

Menurutnya, keberhasilan tidak datang secara instan. Diperlukan semangat, konsistensi, kemauan, kerja keras, serta doa untuk mewujudkan cita-cita.

“Jangan takut bermimpi. Apa pun dan siapa pun Anda, kalau berusaha dan berdoa, insya Allah pasti ada jalan,” pungkas Nur Ahmadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *