MALANG, KLIKTIMESID – Penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu fokus Badan Pimpinan Nasional Asosiasi Tenaga Ahli dan Terampil Indonesia (BPN APTAKSINDO) setelah menggelar Musyawarah Nasional (Munas) III.
Langkah konkret dilakukan dengan memperluas sosialisasi dan program sertifikasi kompetensi ke sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di Jawa Timur. Program tersebut diarahkan agar mahasiswa tidak hanya memiliki ijazah akademik, tetapi juga kompetensi yang terukur dan diakui saat memasuki dunia kerja.
Munas III BPN APTAKSINDO dan BPN PERJASI periode 2026–2031 digelar selama dua hari, 12–13 Agustus 2026, di Hotel Leedon Suites Surabaya. Forum tersebut menghasilkan sejumlah keputusan strategis untuk memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pengembangan SDM dan sektor jasa konstruksi nasional.
Pasca-Munas III, Pendiri APTAKSINDO Muhammad Ali Zaini langsung melakukan road show ke sejumlah kampus di Jawa Timur. Salah satu agenda utamanya adalah memperkenalkan program sertifikasi jasa konstruksi dan nonjasa konstruksi yang mengacu pada standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Road show perdana dilakukan di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jumat (21/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Muhammad Ali Zaini berdiskusi dengan Dekan Fakultas Teknik UB Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., serta Wakil Dekan I Dr. Eng. Ir. Indradi Wijatmiko, S.T., M.Eng.(Prac)., IPU., ASEAN Eng.
Pertemuan yang berlangsung di ruang Dekan lantai 7 Fakultas Teknik UB itu membahas peluang pengembangan program sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa.
Ali Zaini menilai sertifikasi kompetensi menjadi pelengkap penting bagi pendidikan akademik mahasiswa. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi idealnya tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi yang dapat dibuktikan dan diakui.
“Saya berharap ke depan mahasiswa sudah mempunyai kompetensi lebih sebagai tenaga terampil ahli. Selain punya ijazah sarjana. Artinya SDM yang siap kerja,” ujar Ali Zaini.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari Fakultas Teknik UB. Dekan Fakultas Teknik UB Prof. Hadi Suyono menyatakan dukungannya terhadap program sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa.
“Pada prinsipnya kami sangat mendukung program sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga tenaga yang mempunyai kompetensi terukur dan sesuai dengan kebutuhan profesi,” ujarnya.
Penguatan sertifikasi yang dilakukan APTAKSINDO tidak berhenti pada sosialisasi di perguruan tinggi. Organisasi tersebut juga telah bekerja sama dengan PT Utama Lestari Indonesia dalam pengembangan tempat uji kompetensi di berbagai wilayah Jawa Timur.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat dan tenaga kerja terhadap sertifikasi kompetensi, khususnya di sektor yang membutuhkan tenaga profesional dengan kompetensi terukur.
Program tersebut juga telah menghasilkan capaian yang cukup signifikan. Ali Zaini menyebut sepanjang 2025, sebanyak 1.800 orang telah memperoleh Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK).
“Tahun 2025 kemarin kita sudah mengeluarkan SKK, Sertifikat Kompetensi Kerja kepada 1.800 orang,” ungkapnya.
Menurut Ali Zaini, capaian tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap sertifikasi kompetensi. Karena itu, penguatan SDM melalui sertifikasi harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
Untuk memperkuat ekosistem sertifikasi, APTAKSINDO juga menyiapkan program pembentukan asesor kompetensi di bidang jasa konstruksi.
Program tersebut rencananya dilaksanakan di Surabaya selama lima hari. Keberadaan asesor dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas pelaksanaan uji kompetensi di Jawa Timur.
“Terdekat akan membuat asesor kompetensi. Selain SDM yang sertifikat, juga asesor kompetensi yang akan dilaksanakan di Surabaya selama lima hari,” jelas Ali Zaini.
Setelah Fakultas Teknik UB, Muhammad Ali Zaini bersama jajaran Pengurus Pusat APTAKSINDO melanjutkan road show ke Universitas Widya Gama Malang.
Rombongan bertemu dengan Wakil Rektor III Universitas Widya Gama Malang Prof. Dr. Ana Sopanah Supriyadi, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA. Pertemuan tersebut membahas peluang pengembangan sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa serta pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, lembaga sertifikasi, dan dunia industri. Prof. Ana Sopanah menyambut positif inisiatif APTAKSINDO tersebut.

“Program sertifikasi kompetensi sangat penting untuk memberikan pengakuan terhadap kemampuan mahasiswa. Kami menyambut baik adanya komunikasi dan peluang kolaborasi seperti ini, karena mahasiswa membutuhkan bekal yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga kompetensi yang relevan dengan dunia kerja,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan lulusan menghadapi perkembangan dan kebutuhan dunia kerja.
“Kolaborasi dengan lembaga sertifikasi dan dunia industri akan semakin memperkuat kesiapan lulusan. Mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman dan pengakuan kompetensi sejak masih berada di perguruan tinggi,” katanya.
Dalam rangkaian road show tersebut, Muhammad Ali Zaini didampingi sejumlah Pengurus Pusat APTAKSINDO, di antaranya Syahreni, Sugiharto, S.E., M.Si., dan Izza Tias, S.E.
Selain sebagai pendiri APTAKSINDO, Ali Zaini juga menjabat sebagai Ketua FPK Jawa Timur.
Keterlibatan jajaran pengurus pusat menunjukkan keseriusan organisasi dalam memperluas sosialisasi sertifikasi kompetensi sekaligus membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Ali Zaini menegaskan, penguatan SDM merupakan bagian penting dari arah organisasi setelah Munas III APTAKSINDO dan PERJASI 2026.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan sektor konstruksi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur yang dibangun, tetapi juga oleh kualitas tenaga profesional yang mengerjakannya.
“Target kita adalah bagaimana mahasiswa ketika lulus tidak hanya membawa ijazah sarjana, tetapi juga mempunyai kompetensi yang diakui. Dengan begitu, mereka benar-benar menjadi SDM yang siap kerja,” tegas Ali Zaini.
Dengan capaian 1.800 SKK pada 2025, pengembangan tempat uji kompetensi di berbagai wilayah Jawa Timur, kerja sama dengan PT Utama Lestari Indonesia, serta rencana pembentukan asesor kompetensi di Surabaya, APTAKSINDO terus memperkuat ekosistem sertifikasi kompetensi di Jawa Timur.
Road show ke berbagai PTN dan PTS akan terus dilanjutkan. Harapannya, semakin banyak mahasiswa dan tenaga kerja memiliki kompetensi terukur dan diakui, sehingga mampu meningkatkan daya saing SDM Jawa Timur dan Indonesia.
Dari Munas III ke kampus, APTAKSINDO menegaskan bahwa penguatan organisasi harus berjalan seiring dengan langkah konkret menyiapkan SDM yang profesional, kompeten, terampil, dan siap kerja.
















