BeritaDaerah

Greenhouse Berbasis IoT Dorong Produktivitas Petani di Probolinggo

1028
×

Greenhouse Berbasis IoT Dorong Produktivitas Petani di Probolinggo

Sebarkan artikel ini

PROBOLINGGO,KLIKTIMES.ID – Upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan petani di Kabupaten Probolinggo terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pertanian cerdas.

Salah satunya melalui penerapan greenhouse berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat bersama Kelompok Tani Daun Mas 1 di Desa Kedung Rejoso, Kabupaten Probolinggo.

Program tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

Kegiatan tersebut diketuai Moh. Shadiqur Rahman, Ph.D., dosen Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya, bersama Rizky Dwi Putri, Ph.D., dosen Universitas Negeri Malang. Program ini juga melibatkan Kelompok Tani Daun Mas 1 serta pemuda tani setempat, termasuk Fatahillah.

Pengembangan greenhouse berbasis IoT ditujukan untuk menjawab persoalan petani yang selama ini masih bergantung pada kondisi cuaca. Komoditas hortikultura seperti cabai dan melon menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari produktivitas yang belum stabil, kualitas hasil yang belum seragam hingga risiko gagal panen akibat perubahan suhu, kelembapan dan curah hujan.

Melalui teknologi IoT, kondisi lingkungan di dalam greenhouse dapat dipantau menggunakan sejumlah sensor. Parameter yang diamati antara lain suhu, kelembapan udara dan kelembapan tanah.

Data yang dihasilkan kemudian menjadi dasar bagi petani dalam mengambil keputusan budidaya, terutama terkait kebutuhan penyiraman dan pemeliharaan tanaman.

Ketua tim, Moh. Shadiqur Rahman, mengatakan penerapan teknologi tersebut tidak sekadar menghadirkan bangunan greenhouse dan perangkat IoT, tetapi diarahkan agar teknologi benar-benar dapat membantu petani mengambil keputusan secara lebih tepat.

“ Kami ingin greenhouse ini tidak berhenti sebagai bangunan fisik. Melalui integrasi IoT, petani dapat mengetahui kondisi lingkungan tanaman berdasarkan data,” ujar Shadiqur.

Menurutnya, informasi mengenai kondisi suhu, kelembapan dan kebutuhan air dapat membantu petani melakukan pengelolaan tanaman secara lebih terukur. Dengan demikian, produksi diharapkan menjadi lebih stabil, penggunaan input lebih efisien dan risiko akibat perubahan cuaca dapat ditekan.

Shadiqur menegaskan, peningkatan produktivitas pertanian harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas petani dalam mengoperasikan teknologi.

Karena itu, program tersebut tidak hanya mencakup pembangunan dan instalasi sistem, tetapi juga pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi serta upaya menjaga keberlanjutan program.

Anggota tim, Rizky Dwi Putri, menambahkan keberhasilan transformasi pertanian berbasis teknologi sangat bergantung pada kemampuan petani dalam memahami dan memanfaatkan perangkat yang digunakan.

“Teknologi akan memberikan manfaat ketika petani merasa mampu dan nyaman menggunakannya. Karena itu, proses pendampingan menjadi sangat penting,” jelas Rizky.

Rizky juga turut mendukung operasional greenhouse, asistensi penggunaan sistem IoT, pengumpulan data lapangan serta proses alih pengetahuan kepada petani mitra.

Sementara itu, Kelompok Tani Daun Mas 1 yang diketuai Cak Fauzi menyambut baik penerapan teknologi tersebut. Selama ini, pengelolaan budidaya masih banyak mengandalkan pengalaman dan kebiasaan petani, sedangkan pemanfaatan data kondisi lingkungan tanaman masih terbatas.

“Selama ini kami sangat bergantung pada kondisi cuaca. Kadang hujan berlebihan, kadang panas tinggi, dan itu berpengaruh langsung pada tanaman,” ungkap perwakilan kelompok tani.

Menurutnya, keberadaan greenhouse dan perangkat monitoring diharapkan membuat kondisi tanaman lebih mudah dikontrol. Petani juga berharap teknologi tersebut dapat dipelajari sehingga nantinya mampu dioperasikan secara mandiri.

Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan penerapan teknologi pertanian tersebut. Fatahillah, salah satu pemuda tani yang terlibat, menilai pemanfaatan IoT dapat membuat sektor pertanian semakin menarik bagi generasi muda.

“Pertanian sekarang tidak hanya soal bekerja di lahan, tetapi juga bisa menggunakan sensor, data dan teknologi digital,” katanya.

Dia berharap pengetahuan yang diperoleh dari program tersebut dapat dikembangkan dan diterapkan pada usaha pertanian lainnya.

Dalam pelaksanaannya, petani ditempatkan sebagai bagian aktif dalam penerapan teknologi. Mereka terlibat mulai dari pengoperasian greenhouse, penggunaan sistem IoT, praktik budidaya hingga evaluasi kegiatan.

Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat meningkatkan rasa memiliki sekaligus mendorong kelompok tani mampu mengelola teknologi secara mandiri setelah program berakhir.

Secara lebih luas, penerapan greenhouse berbasis IoT tersebut diharapkan mampu meningkatkan stabilitas produksi hortikultura, menghemat penggunaan air dan input produksi, serta memperkuat kemampuan petani dalam mengambil keputusan berbasis data.

Dalam rancangan program, teknologi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekitar 20–30 persen, sekaligus menekan kehilangan hasil panen sekitar 1520 persen.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok tani dan generasi muda ini diharapkan menjadi langkah konkret menuju pertanian hortikultura yang lebih produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, berbasis teknologi dan berkelanjutan di Kabupaten Probolinggo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *