Berita

Sekretaris PC Ansor Sumenep Ungkap Alasan Lahirnya Satgas Ansor Hijau: Dimulai dari “Sombher”

83
×

Sekretaris PC Ansor Sumenep Ungkap Alasan Lahirnya Satgas Ansor Hijau: Dimulai dari “Sombher”

Sebarkan artikel ini
Dari kiri: Syaifurrahman, Pengurus MWC NU Guluk-Guluk; Anwar Syahroni Yusuf, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumenep; dan Adi Purnomo, Sekretaris PC Ansor Sumenep, saat kegiatan bersih sumber air di Sumber Dudduih, Desa Guluk-Guluk. Foto/Kliktimes.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Sekretaris PC GP Ansor Sumenep, Adi Purnomo, mengungkap latar belakang lahirnya gerakan Satgas Ansor Hijau yang dimulai dari sumber mata air atau yang dikenal masyarakat sebagai “sombher”.

Adi menegaskan, gerakan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Satgas Ansor Hijau lahir dari kajian ekologis internal organisasi sekaligus kegelisahan kader atas degradasi lingkungan yang mulai terlihat di sejumlah wilayah.

Hal itu diungkapkannya saat kegiatan bersih lingkungan di kawasan Sumber Dudduih, Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Adi, pemilihan “sombher” sebagai titik awal gerakan memiliki makna strategis dan simbolis. Dalam kajian internal PC GP Ansor Sumenep, kondisi sumber mata air mencerminkan keadaan suatu daerah.

“Dalam kajian kami, sombher itu adalah gambaran kondisi daerah. Kalau sumber airnya hidup dan mengalir jernih, itu tanda lingkungan kita masih terjaga,” ujar Adi.

Adi menjelaskan, sumber air di Sumenep tergolong terbatas. Karena itu, kondisi mata air dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan.

“Kalau sombher mati atau tidak mengalir, itu alarm alam. Artinya ada yang tidak baik dengan kondisi daerah,” tegasnya.

Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan warga sehari-hari, sambung pria berjenggot tipis itu, sumber air juga menjadi simbol keberlanjutan ekosistem. Air yang terus mengalir menandakan tanah subur, pertanian berjalan dan kehidupan masyarakat tetap terjaga.

“Air itu nadi kehidupan. Kalau nadinya sehat, daerah juga sehat,” tambahnya.

Adi menegaskan, Satgas Ansor Hijau hadir untuk mendorong aksi nyata dalam menjaga kelestarian alam dan penghijauan. Gerakan ini berangkat dari prinsip sederhana: perbaikan harus dimulai dari hulu.

“Kalau sumbernya kita jaga, dampaknya akan terasa sampai hilir,” jelasnya.

Ia berharap langkah yang dimulai dari sombher ini dapat berkembang menjadi gerakan berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.

“Menjaga sumber air berarti menjaga masa depan. Dan itu tanggung jawab bersama,” tegas Adi.

Lebih lanjut, kegiatan bersih sumber air ini menjadi langkah awal dari rangkaian aksi lanjutan Satgas Ansor Hijau. Memasuki bulan Ramadan, pihaknya berencana menggencarkan kegiatan bersih lingkungan dan reboisasi di sejumlah titik.

“Kami ingin Ramadan nanti diisi dengan aksi nyata. Bersih lingkungan, tanam pohon, dan menjaga sumber air. Karena menjaga sombher sama dengan menjaga masa depan,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *