SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Kepala Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah, merespons laporan warga terkait dugaan penyakit chikungunya di Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk.
Ia memastikan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep siap membantu koordinasi dengan Puskesmas setempat untuk memastikan kondisi di lapangan sebagai langkah awal penanganan dugaan chikungunya.
“Untuk memastikan apakah ini chikungunya, harus diperiksa terlebih dahulu. Saya akan koordinasikan dengan Puskesmas setempat,” ujar drg. Ellya saat dikonfirmasi Kliktimes, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, langkah awal penanganan dugaan chikungunya pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan demam berdarah dengue (DBD), yakni dengan fokus pada pengendalian jentik nyamuk sebagai sumber penularan.
“Prinsipnya sama seperti DBD. Yang paling penting memastikan tidak ada jentik nyamuk di lingkungan,” jelasnya.
Sementara itu, laporan tersebut muncul seiring dengan keresahan warga Desa Bragung. Penyakit yang diduga chikungunya dilaporkan mulai menjangkiti sejumlah warga mulai dari anak-anak hingga lansia. Gejala yang dirasakan antara lain demam tinggi, nyeri sendi berkepanjangan, serta kondisi tubuh yang lemas sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Andi, salah satu warga Desa Bragung, menyebut penyebaran penyakit tersebut berlangsung cukup cepat. Menurutnya, anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
“Sudah banyak yang sakit. Demamnya tinggi, sendi terasa sakit semua, sampai lemas. Kami sudah melakukan 3M, tapi sepertinya belum cukup,” ungkapnya.
Ia berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep tidak berhenti pada koordinasi semata, melainkan segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan, pemberantasan sarang nyamuk, hingga fogging apabila memang diperlukan.
“Kalau hanya dikoordinasikan tanpa tindakan cepat di lapangan, kami khawatir penyakit ini terus menyebar,” ujarnya.
Menurut Andi, keterlambatan penanganan berpotensi memperluas penyebaran penyakit, terutama di lingkungan permukiman padat yang dihuni anak-anak dan lansia.
“Anak-anak dan orang tua paling rentan. Kalau tidak segera ditangani, kami takut jumlah warga yang sakit akan terus bertambah,” tukasnya.
Selain itu, aktivis HMI tersebut mengungkapkan bahwa kekhawatirannya semakin besar setelah anggota keluarganya turut terjangkit penyakit serupa.
“Khawatir merembet ke yang lain. Maka ini yang perlu dituntaskan, sebab potensi penyebarannya sangat besar,” tandasnya.













