PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Keluarga besar Pondok Pesantren Tanwirul Qulub, Dempo Timur, Pasean, Pamekasan, menggelar Haul Masyaikh Almaghfurlah KH Mardiyan, Senin (24/11/2025). Agenda tahunan yang selalu dinanti ini kembali menjadi momentum berkumpulnya para alumni serta masyarakat yang memiliki kedekatan batin dengan pendiri Ponpes Al-Mardliyyah Tagangser Laok, Waru, Pamekasan tersebut.
Rangkaian acara dimulai dengan tawasulan yang dipimpin Al-Mukarram KH Sholeh Mardiyan, putra dari Almaghfurlah KH Mardiyan. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin bersama oleh K Juli Reyadi, kemudian tahlil bersama yang dipimpin KH Al-Anwari Kholil.
Acara kemudian berlanjut dengan sambutan tunggal oleh Lora Khozin. Dalam ceramahnya, ia memaparkan kembali jejak hidup KH Mardiyan yang wafat pada Senin, 7 November 1994 atau bertepatan 3 Jumadil Akhir 1415 H pukul 08.30 WIB.
Menurut Lora Khozin, KH Mardiyan dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu dan memberantas kebodohan, bahkan di tengah situasi negara yang penuh gejolak akibat penjajahan.
“Beliau diakui negara dan masyarakat sebagai ulama yang berjuang keras membawa cahaya pengetahuan pada masa yang tidak mudah,” ujarnya.
Lora Khozin juga mengungkapkan bahwa KH Mardiyan pernah diangkat menjadi salah satu panglima perang Tapal Kuda dan tercatat sebagai Panglima Pemuda Muslim Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta, berdasarkan SK yang sebelumnya disampaikan oleh KH Abduh Tempurejo. SK tersebut kini disimpan di Bik diwi.
Ia melanjutkan cerita bahwa perjuangan KH Mardiyan dalam merintis pendidikan dan mendirikan pesantren berlangsung di masa kelam pemberontakan PKI. Tantangan datang dari berbagai arah, termasuk penolakan masyarakat setempat yang saat itu tidak siap menerima ajaran agama dan ilmu pengetahuan.
“Berdasarkan riwayat, masyarakat pada masa itu bahkan mengancam siapa pun yang berusaha membawa kebenaran dan ilmu,” tutur Lora Khozin.
Ia juga memaparkan kesaksian dari cerita Mbah nyai Rahbini yang pernah diminta KH Mardiyan mengusap badannya pada tengah malam. Dari tubuh sang ulama keluar pasir – sebuah isyarat bahwa perjuangan awal mendirikan pesantren penuh ancaman dan keselamatan nyawa menjadi taruhannya.
Di akhir sambutannya, Lora Khozin mewakili keluarga besar KH Sholeh Mardiyan dan K Subairi sebagai sohibul bait menyampaikan terima kasih kepada seluruh hadirin.
“Kehadiran panjenengan semua adalah bukti cinta dan pangestu yang bersumber dari ilmu dan akhlak panjenengan,” ujarnya.
Acara haul ditutup dengan doa penuh kekhusyukan yang dipimpin K Abd Halim. Para undangan kemudian membubarkan diri secara tertib sebagai tanda berakhirnya rangkaian kegiatan.













