PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Aksi demonstrasi mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura pada Senin (25/8/2025) berbuntut panjang. Selain memicu ketegangan di hari pertama Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), insiden hilangnya bendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini menjadi polemik baru.
Bagi kader HMI, bendera bukan sekadar atribut organisasi, melainkan simbol kehormatan dan identitas. Karena itu, hilangnya bendera tersebut dianggap serius hingga dilaporkan ke Satreskrim Polres Pamekasan pada Selasa (26/8/2025).
Kepala Seksi Humas Polres Pamekasan, AKP Jupriadi, membenarkan adanya laporan itu. “Masih dalam tahap penyelidikan,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi ini membuat dinamika internal mahasiswa di kampus ikut memanas. Aksi demonstrasi yang melibatkan mahasiswa baru dan hilangnya atribut HMI dinilai mengaburkan esensi PBAK sebagai ruang edukasi. Konflik horizontal antarorganisasi mahasiswa juga disebut semakin terasa.
Menanggapi keresahan tersebut, pengurus HMI komisariat se-UIN Madura menggelar audiensi dengan pimpinan kampus, termasuk Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan. Wakil Rektor III, Mohammad Ali Al Humaidy, menyatakan bahwa tindak lanjut persoalan ini diserahkan sepenuhnya kepada Rektor UIN Madura, Syaiful Hadi.
“Kita harus tetap mematuhi rambu-rambu regulasi kampus. Untuk kejelasan tindakan dan sanksi, kita serahkan kepada Rektor. Selebihnya kita bersabar dan berharap masalah ini segera selesai,” ujarnya.
Namun, HMI mendesak kampus segera bersikap tegas. Imam Malik dan Moh. Rizal selaku pengurus HMI menegaskan pelaku kericuhan harus dijatuhi sanksi. “Semakin cepat diselesaikan semakin baik. Oknum pelaku harus segera dijatuhi sanksi sesuai regulasi kampus,” tegas mereka.
HMI menilai, kampus sebagai ruang pembelajaran dan miniatur peradaban seharusnya mampu mengelola konflik secara adil, agar persoalan organisasi mahasiswa tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.