SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Nelayan di Kepulauan Kangean, Sumenep, kembali menolak rencana eksplorasi dan penambangan minyak dan gas (migas) di perairan mereka. Demonstrasi yang berlangsung Rabu (12/11/2025) dipusatkan di perairan Takat Noko, dekat Desa Angkatan dan Desa Kalisangka.
Aksi ini menjadi perlawanan keempat terhadap aktivitas survei seismik di kawasan Kangean Barat.
Miftahul Anam, Direktur Pao Campa Institute sekaligus Koordinator Nelayan Kangean, mengatakan bahwa survei seismik migas berpotensi membahayakan lingkungan dan ekosistem laut.
“Kalau kita bicara secara saintifik, tentu tidak ada survei migas yang tidak berbahaya. Apalagi ini menyangkut ledakan di laut. Dampaknya pasti ada,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp.
Menurut Anam, sapaan akrabnya, penolakan masyarakat bukan semata soal dampak lingkungan. Aksi ini juga merupakan kelanjutan kesepakatan tokoh masyarakat pada 2008 yang menolak eksplorasi dan survei migas di Kepulauan Kangean.
“Ada pertimbangan politik dan lingkungan. Kami bukan eksekutor dividen, tapi kami yang terdampak langsung,” kata Anam.
Terkait klaim perusahaan bahwa survei seismik tidak berbahaya, Anam menegaskan klaim itu seratus persen bohong. Ia menyebut ledakan airgun dari kapal SK Carina dan Kanupus telah menyebabkan kematian ikan-ikan termasuk yang masih kecil, sehingga berdampak langsung pada mata pencaharian nelayan.
“Ini fakta, 100 persen benar. Ikan-ikan yang tertangkap nelayan banyak yang mati,” jelasnya.
Selain dampak pada ikan, aktivitas survei juga mengganggu keselamatan nelayan penyelam. Dalam tiga bulan terakhir, banyak nelayan enggan menyelam karena khawatir ledakan airgun dapat merusak telinga dan menyebabkan sesak napas.
Anam juga menyoroti narasi perusahaan yang mengklaim menggunakan teknologi ramah lingkungan. Menurutnya, klaim tersebut hanya upaya membangun kepercayaan publik melalui media.
“Kalau memang teknologi yang dipakai di klaim ramah lingkungan, sebutkan saja. Kita bisa searching loh hari ini, misalkan yang dari Pratis atau yang terbarukan dari Yusya, dan itu kita bisa,” ujarnya.
Lebih jauh, masyarakat yang menolak survei dan eksplorasi sering mendapat stigma negatif. “Orang-orang yang menolak dianggap preman kampung, bahkan teroris. Ini fitnah yang tersebar luas,” pungkas Anam.













