Berita

Pemuda Pamekasan Keluhkan Razia Lalu Lintas, Aktivis Soroti Kurangnya Edukasi di Lapangan

20
×

Pemuda Pamekasan Keluhkan Razia Lalu Lintas, Aktivis Soroti Kurangnya Edukasi di Lapangan

Sebarkan artikel ini
Sejumlah pemuda di Kabupaten Pamekasan menyampaikan keluhan terkait razia lalu lintas dan mendorong pendekatan edukatif serta humanis dari aparat kepolisian. Foto/Kliktimes.

PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Penertiban dan penilangan lalu lintas yang dilakukan kepolisian di Pamekasan menuai keluhan dari kalangan pemuda. Sejumlah pemuda mengaku merasa cemas saat bertemu aparat di jalan, meski aktivitas mereka hanya sekadar nongkrong atau jalan santai.

Beberapa pemuda menilai pola razia di lapangan belum disertai edukasi yang memadai, sehingga menimbulkan rasa khawatir, terutama ketika tidak dapat langsung mengenali petugas yang bertugas.

“Setiap melihat polisi di jalan, jantung langsung berdebar. Bukan karena takut melanggar aturan, tapi karena sebagian dari kami merasa cemas saat tidak mengenali petugas. Rasanya seperti berada dalam situasi menegangkan,” ujar salah satu pemuda yang enggan disebutkan namanya.

Fenomena ini menunjukkan tantangan membangun kepercayaan antara generasi muda dan aparat penegak hukum. Dalam negara hukum, polisi seharusnya hadir sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, bukan menimbulkan ketakutan.

Royhan Iqbal, aktivis Gerbang Salam, menekankan pentingnya pendekatan humanis dan edukatif dalam penertiban lalu lintas. Menurutnya, razia harus dijalankan sesuai prosedur, tapi juga dibarengi dengan sosialisasi yang jelas agar masyarakat memahami mekanisme penilangan.

“Razia bukan hanya soal menindak pelanggar, tapi juga kesempatan mendidik masyarakat. Profesionalisme petugas akan meningkatkan kepercayaan publik. Kalau pendekatan hanya represif, generasi muda malah takut, bukan taat,” ujar Royhan.

Royhan menambahkan, kepolisian perlu membuka ruang pengaduan publik yang mudah diakses. Dengan begitu, masyarakat bisa menyampaikan keluhan atau masukan secara transparan.

“Kalau ruang komunikasi ini ada, konflik bisa diminimalkan, dan masyarakat merasa didengar,” katanya.

Selain itu, Royhan menekankan pentingnya evaluasi internal, terutama di titik-titik rawan balap liar.

“Setiap kendaraan yang ditindak harus melalui prosedur jelas. Pemilik kendaraan perlu mendapat informasi yang cukup agar prosesnya tidak menimbulkan kebingungan,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan pemuda untuk tetap mematuhi aturan lalu lintas dan melengkapi surat-surat kendaraan.

“Keselamatan itu tanggung jawab bersama. Polisi bisa menertibkan, tapi masyarakat juga harus sadar aturan,” tambah Royhan.

Kepercayaan publik menjadi modal utama institusi kepolisian. Tanpa kepercayaan, hukum bisa dipandang sebagai ancaman, bukan perlindungan. Oleh karena itu, perbaikan pendekatan dalam penilangan lalu lintas dianggap penting agar generasi muda merasa aman saat bertemu aparat di jalan.

Pewarta Kliktimes telah mencoba menghubungi Kasat Lantas Polres Pamekasan pada 16 Februari 2026 pukul 18.26 WIB untuk meminta klarifikasi, namun hingga berita ini diturunkan belum memperoleh respons.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *