Berita

Menu MBG di SPPG Pordapor Dipertanyakan, Klaim Pengelola Tak Sinkron dengan Penerima Manfaat

907
×

Menu MBG di SPPG Pordapor Dipertanyakan, Klaim Pengelola Tak Sinkron dengan Penerima Manfaat

Sebarkan artikel ini
Isi paket MBG yang diterima siswa di SPPG Pordapor. Klaim durasi konsumsi menu berbeda antara penerima manfaat dan pengelola. Foto/Kliktimes.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Program pemenuhan gizi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pordapor, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, menuai keluhan dari sejumlah wali murid.

SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Darul Arqom Batukerbuy tersebut menyalurkan paket makanan dengan sistem bundling untuk lima hari sekaligus, dengan total anggaran sekitar Rp 50 ribu per paket.

Berdasarkan paket yang diterima siswa, isi MBG terdiri dari satu bungkus roti tawar pandan, dua buah apel, satu buah salak, serta lima kotak susu Frisian Flag varian NutriBrain Omega.

Paket tersebut dibagikan sekaligus untuk kebutuhan konsumsi selama lima hari sekolah.

“Ini menunya untuk lima hari, terhitung dari Senin sampai Sabtu, dan diberikan hari ini,” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, Sabtu (14/2/2026).

Menurutnya, sistem pembagian paket sekaligus dengan menu yang relatif sederhana tersebut menimbulkan pertanyaan terkait kecukupan gizi bagi anak-anak penerima program.

Ia menilai anggaran Rp50 ribu untuk paket makanan selama lima hari tergolong sangat minim jika harus memenuhi kebutuhan gizi seperti protein, serat, vitamin serta kalori bagi anak sekolah.

“Kalau dihitung-hitung, Rp50 ribu untuk lima hari rasanya sangat minim. Pertanyaannya, apakah nilai gizi dan porsinya cukup untuk kebutuhan anak-anak selama lima hari?” ujarnya.

Keluhan tersebut memunculkan harapan agar program pemenuhan gizi itu dievaluasi, terutama terkait kualitas menu, kecukupan nutrisi, serta transparansi pengelolaan anggaran agar tujuan peningkatan gizi anak benar-benar tercapai.

Di sisi lain, Kepala SPPG Pordapor, Maskiyatun, memberikan klarifikasi berbeda. Ia menegaskan menu yang dibagikan sebenarnya hanya berlaku untuk dua hari, bukan lima hari.

“Betul, sudah saya sampaikan ke PIC sekolahnya,” ujarnya saat dikonfirmasi Kliktimes.

Namun, penjelasan tersebut justru dipertanyakan oleh sumber di lapangan. Ia menilai komposisi paket yang diterima siswa tidak mencerminkan jatah konsumsi dua hari.

“Kalau memang untuk dua hari, kenapa ada lima kotak susu dalam satu paket? Secara logika itu lebih cocok untuk beberapa hari konsumsi, bukan dua hari,” katanya.

Selain itu, menurutnya paket tersebut juga disampaikan kepada siswa sebagai menu untuk lima hari. Hal ini menimbulkan kebingungan antara informasi yang diterima di lapangan dengan penjelasan dari pihak pengelola program.

“Yang disampaikan ke anak-anak jelas untuk lima hari. Jadi kalau sekarang disebut dua hari, tentu menimbulkan pertanyaan baru. Artinya ada yang tidak sinkron antara penjelasan dan praktik di lapangan,” ujarnya.

Situasi ini menimbulkan dugaan adanya persoalan komunikasi maupun mekanisme distribusi dalam pelaksanaan program MBG di tingkat pelaksana.

Kliktimes akan terus mendalami persoalan ini di SPPG Pordapor guna memastikan implementasi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar berjalan sesuai tujuan pemenuhan gizi anak sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *