BeritaDaerahNasional

Menu MBG di SPPG Guluk-Guluk Dikeluhkan Guru, Kepala SPPG Tegaskan Siap Ganti Porsi jika Sekolah Aktif Melapor

175
×

Menu MBG di SPPG Guluk-Guluk Dikeluhkan Guru, Kepala SPPG Tegaskan Siap Ganti Porsi jika Sekolah Aktif Melapor

Sebarkan artikel ini
Menu MBG dari SPPG Guluk-Guluk yang dikeluhkan sejumlah guru dan wali murid karena kualitasnya dinilai kurang layak konsumsi dan bau sehingga banyak siswa enggan memakannya. Foto/Klik Times.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur kembali menjadi sorotan publik.

Para guru di wilayah tersebut mengeluhkan kualitas makanan yang dinilai jauh dari standar gizi dan terkesan asal-asalan. Kondisi ini memicu pertanyaan tentang efektivitas salah satu program prioritas nasional tersebut.

Program yang sejatinya dirancang untuk menunjang kesehatan dan konsentrasi belajar siswa justru kembali ramai diperbincangkan. Keluhan dari tenaga pendidik mengemuka, terutama soal kualitas hidangan yang dibagikan kepada peserta didik.

Keluhan terbaru muncul usai distribusi menu pada Rabu (26/11/2025). Secara tampilan, menunya terlihat lengkap—nasi putih, ikan goreng, tahu, tumis toge, hingga potongan buah. Namun, menurut para guru, kualitas makanan tersebut dinilai jauh dari layak konsumsi.

“Mun di Guluk-Guluk nga’ jiye cet lek gak enak (kalau di Guluk-Guluk memang tidak enak),” ujar seorang guru yang enggan disebutkan namanya.

Ia menceritakan bahwa masalah kualitas makanan bukan baru terjadi kali ini. Sebelumnya, siswa pernah menerima nasi dengan aroma kurang sedap dan tekstur berubah, yang mengindikasikan nasi sudah mulai basi.

“Kemarin nasinya beruy (basi),” tambahnya.

Tak hanya nasi, ikan goreng yang menjadi sumber protein utama juga disebut tidak segar. Penampilannya dinilai tidak menggugah selera sehingga banyak siswa enggan menyentuh hidangan tersebut dan hanya mengambil buah.

“Pas anak-anak gun ngambil buahnya, anak-anak bukan lahap makan, malah tak mau,” ujarnya.

Para guru khawatir, buruknya kualitas makanan justru membuat tujuan MBG tidak tercapai. Alih-alih meningkatkan gizi dan mendukung proses belajar, makanan yang kurang layak konsumsi justru berpotensi menurunkan minat makan siswa dan mengurangi asupan nutrisi yang seharusnya terpenuhi.

“Program ini kan menyerap anggaran besar. Mestinya manfaatnya juga besar,” tegas salah satu guru.

Keluhan serupa juga datang dari seorang wali murid di salah satu lembaga di Bragung, berinisial N. Ia menyebut ikan pada menu kali ini berbau dan tidak punya rasa.

“Ikannya bau jet tadek rassanah alah sakaleh pas kun manis, ereken kolek Ngara (Ikannya bau, seolah nggak ada rasanya, malah manis kayak kolak),” ujarnya.

Ia juga menyampaikan banyak siswa yang memilih tidak memakan MBG tersebut.

“Ternyata benya’ jet se tak ekakan ben nak kanak,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Guluk-Guluk, Qiwam, menyatakan pihaknya terbuka menerima laporan dari sekolah.

Ia menyampaikan bahwa dalam MoU dengan para kepala sekolah telah disepakati setiap laporan terkait berbagai persoalan, termasuk kualitas menu, harus disampaikan melalui grup sebelum pukul 11.

“Kami siap mengganti porsi saat itu juga. Nomor saya sudah ada di kepala sekolah,” ujarnya.

Lebih lanjut Qiwam mengaku hingga saat ini belum menerima laporan apapun dari pihak sekolah, melainkan hanya mendengar informasi dari luar.

“Dari saya pribadi, mohon maaf dan terima kasih kepada sampean sebagai media yang menampung laporan ini. Kejadian ini saya jadikan evaluasi agar program berjalan lebih baik,” ungkapnya.

Terkait kemungkinan penggantian menu di hari yang sama apabila jumlah keluhan besar, Qiwam menyebut hal tersebut tidak selalu bisa dilakukan.

“Kalau jumlahnya besar mungkin tidak nututi, mas. Semoga ke depan kejadian seperti ini tidak terulang. Mohon maaf sebelumnya,” tandasnya.

Meski demikian, saat ditanya mengenai standar gizi menu yang dikeluhkan, Qiwam memastikan setiap menu telah disusun bersama ahli gizi.

“Setiap menu yang ada di SPPG manapun sudah hasil kesepakatan ahli gizi dengan kepala masak. Setiap SPPG ada ahli gizinya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *