Kolom

Menitipkan Mimpi Kepada Selambar Daun Tembakau

17
×

Menitipkan Mimpi Kepada Selambar Daun Tembakau

Sebarkan artikel ini
Novil Suryadi. Foto/Ist.

KOLOM | KLIKTIMES.ID – Di balik kepulan asap yang sering diperdebatkan, ada kisah panjang tentang harapan yang disematkan pada selembar daun tembakau. Bagi orang Madura ia bukan sekadar komoditas, bukan hanya soal industri atau kontroversi kesehatan yang kerap menjadi sorotan.

Lebih dari itu, sudah berabad lamanya orang Madura menjadikan tembakau sebagai ruang sunyi tempat jutaan mimpi dititipkan oleh petani, buruh, hingga keluarga yang menggantungkan hidup pada siklus tanam dan panen yang tak pernah sederhana.

Di ladang-ladang yang terbentang dari lereng pegunungan hingga dataran rendah, tembakau tumbuh dengan segala kerentanannya. Ia menuntut ketelatenan, kesabaran, dan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian. Cuaca yang tak menentu, harga yang fluktuatif, serta kebijakan yang kerap berubah menjadi bagian dari keseharian para petani.

Namun di tengah semua itu orang Madura khususnya petani, tetap menanam. Sambil lalu terus menitipkan harapan pada tiap lembarnya agar harga saat panen tetap tinggi. Bagi masyarakat setempat yang ada di Pulau Madura setiap helai daun tembakau bukan hanya hasil bumi, melainkan simbol harapan.

Harapan itu sederhana, tetapi bermakna dalam. Anak-anak yang bisa terus bersekolah, dapur yang tetap mengepul, dan kehidupan yang berjalan meski dalam keterbatasan. Tembakau menjadi perantara antara kerja keras dan impian yang ingin diraih.

Ia mengajarkan bahwa mimpi tidak selalu dititipkan pada sesuatu yang megah, tetapi justru pada hal-hal kecil yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun sudah menjadi hukum bagi sejarah peradaban manusia, jika setiap mimpi yang dijahit oleh anak manusia selalu satu paket dengan resiko dan tantangannya.

Bertahun-tahun lamanya petani tembakau di Madura hidup dalam ketidak pastian, mimpi yang dititipkan kepada selembar tembakau kerapa kali berbuah kekecewaan. Bagaimana tidak petani selalu terjebak oleh harga panen yang tidak menentu, berlahan dibunuh oleh rantai produksi yang sangat jauh dengan industri rokok membuat petani tembakau menjadi entitas paling dikorbankan.

Dalam doktrin ekonomi jarak mata rantai produksi mempengaruhi nilai dan harga pasar. Membuat para petani tembakau berlahan mulai bergeser mencari sumber kehidupan ekonomi baru, misalnya merantau membuka toko kelontong di Jawa, kondisi ini dalam jangka panjang dapat menghapus tembakau sebagai identitas masyarakat Madura.

Namun perlahan tapi pasti semangat untuk bertahan pada identitas Madura mulai muncul, dalam dekade tujuh hingga sepuluh tahun terakhir industri rokok lokal mulai tumbuh. Secercah cahaya mulai terlihat, senyum para petani tembakau kembali merekah.

Harga setiap musim panen mulai stabil, industri lokal yang semakin menambah penghasilan petani, menghidupkan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan dan menambah keyakinan akan mimpi terhadap apa yang disebut dengan emas hijau.

Tapi tetap saja selalu ada kerikil yang menjadi batu sandungan, terhadap mimpi petani tembakau yang sudah berlahan mulai menerima kenyataan dari mimpi yang pernah dirajut. Bedanya kerikil itu berwajah sangat rapi, berlatar belakang mentereng politisi dan aktivis yang sebetulnya adalah orang Madura.

Para Penyamun Hendak Merampok Mimpi

Kritik terhadap keberadaan industri rokok lokal muncul tidak ubah deru gelombang tanpa henti yang menerjang pesisir. Narasinya dibungkus dengan satu diksi yang terus di kapitalisasi yaitu rokok ilegal, hingga menjadi stigma seolah semut industri rokok lokal yang kecil ini tempatnya barang ilegal.

Suara-suara ini sangat ter orkestrasi hingga timbul tanya apa yang sebetulnya yang dituju ?. Tidak mungkin sesuatu yang di resonansikan sangat masif tanpa tujuan. Dalam perspektif teori dekonstruksi Jacques Derrida, makna tidak bersifat tetap dan dapat dibongkar dari dalam melalui kontradiksinya sendiri.

Jika di telisik lebih jauh banyak dari aktivis yang bersuara tentang hal itu dan politisi ini tidak napak bumi. Tidak bersekutu dengan masyarakat khususnya petani tembakau, hingga tidak dapat melihat senyum mereka setiap musim panen karena harga yang stabil sejak tumbuhnya industri rokok lokal.

Tentu sebagai entitas masyarakat dalam ruang demokrasi, sangatlah kontradiktif jika aktivis atau politisi terpisah dengan kenyataan. Hingga menimbulkan konklusi subjektif Jangan-jangan ini penyamun yang sedang ingin merampok mimpi kesejahteraan para petani tembakau ?.

Ingat ini hanya subjektivitas membaca kontradiksi dalam makna narasi yang dibangun oleh mereka. Jika benar hanya untuk hasrat keuntungan pribadi petani tembakau akhirnya akan tiba pada ujung jalan dimana mimpinya akan sirna dan kembali menjadi santapan empuk industri besar.

*) Novil Suryadi. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

Satu barangkali yang dilupa oleh aktivis Madura dan legislator asal Madura itu, sebagai generasi intelektual dan pemimpin harusnya belajar dari Soekarno untuk menempelkan telinga ke tanah agar dapat mendengar derap langkah rakyat, mencium bau keringat petani tembakau dalam meningkatkan kesejahteraannya.