Resensi

Menilik Babad Modern Sumenep: Konflik, Kronik Sejarah Lokal, dan Intrik Politik

22
×

Menilik Babad Modern Sumenep: Konflik, Kronik Sejarah Lokal, dan Intrik Politik

Sebarkan artikel ini
SAMPUL BUKU: Buku Babad Modern Sumenep karya Zainollah Ahmad yang mengulas perjalanan sejarah Sumenep, mulai dari masa awal kerajaan, proses islamisasi, hingga dinamika politik pada masa kolonial.

Memberikan pengetahuan tentang sejarah lokal merupakan salah satu tanggung jawab penting bagi akademisi maupun pegiat literasi kepada generasi muda. Pasalnya, memahami sejarah lokal tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang nilai-nilai kebudayaan dan kebangsaan, tetapi juga menghadirkan perspektif unik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejarah lokalitas menjadi kunci penting dalam menanamkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda, sebab dari sanalah keberagaman identitas, tradisi, dan dinamika sosial masyarakat dapat dipahami secara lebih mendalam.

Salah satu potret sejarah lokal tersebut dapat ditemukan dalam buku “Babad Modern Sumenep” karya Zainollah Ahmad. Buku ini layak menjadi bacaan penting bagi generasi muda Sumenep karena memuat historiografi yang berupaya mengurai perjalanan panjang sejarah daerah tersebut, mulai dari masa awal berdirinya hingga periode kolonial dan perjuangan menuju kemerdekaan. Di dalamnya juga dijelaskan peran ulama, dinamika adat, pergulatan politik, serta perkembangan budaya yang menjadi benang merah terbentuknya Kabupaten Sumenep di Pulau Madura.

Buku Babad Modern Sumenep menyajikan narasi sejarah dengan memadukan fakta sejarah, kronik lokal, serta tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh penting seperti Arya Wiraraja—figur yang memiliki peran signifikan dalam sejarah Jawa dan Madura—ditampilkan sebagai fondasi awal pembentukan politik lokal Sumenep. Penelusuran sejarah kemudian bergerak melalui era Hindu-Buddha, transisi menuju masa Islam, hingga perubahan struktur pemerintahan ketika VOC dan pemerintah Hindia Belanda mulai menguasai wilayah Sumenep.

Salah satu bagian yang menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai proses masuknya Islam di Kabupaten Sumenep. Sebagaimana diketahui, Islam menjadi agama mayoritas masyarakat Madura. Oleh karena itu, penting bagi pembaca untuk memahami bagaimana proses penyebaran agama tersebut hingga akhirnya berakar kuat di wilayah ini. Dalam buku ini dijelaskan bahwa proses islamisasi di Madura berlangsung melalui tiga jalur utama, yakni jalur perdagangan, jalur politik, serta jalur dakwah para wali dan ulama. Ketiga jalur tersebut memainkan peran signifikan dalam membentuk corak keislaman masyarakat Madura (hlm. 124).

Masuknya Islam di wilayah Sumenep disebut telah berlangsung sejak masa pemerintahan Panembahan Joharsari yang memimpin sekitar tahun 1319 hingga 1331 M. Panembahan Joharsari memiliki seorang putra bernama Panembahan Mandaraga yang juga diyakini telah memeluk Islam. Indikasi tersebut diperkuat oleh keberadaan makam yang memiliki ciri khas makam Islam di Dusun Mandaraga, Desa Keles, Kecamatan Ambunten.

Sejumlah sumber sejarah juga menyebutkan bahwa penyebaran Islam di Sumenep turut dibawa oleh Sayyid Ahmadul Baidawi, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Katandur. Penyebaran tersebut diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan sekitar tahun 1550-an. Makam tokoh ini berada di Karangduwak, tidak jauh dari pusat kota Sumenep, dan dikenal dengan nama Asta Karang Sabu (hlm. 128).

Hal menarik lainnya dalam proses islamisasi di Sumenep adalah keterlibatan langsung para raja dan bangsawan dalam menerima serta menyebarkan ajaran Islam. Salah satu kisah yang cukup populer adalah cerita tentang Kiai Ali Barangbang yang berhasil melakukan dakwah kepada raja Sumenep. Dalam kisah tersebut, Kiai Ali Barangbang menunjukkan karomahnya dengan mengajarkan seekor kera untuk mengaji di hadapan sang raja. Peristiwa itu kemudian menjadi simbol bahwa ilmu pengetahuan akan sulit berkembang jika tidak disertai dengan pembentukan watak dan karakter yang baik.

Melalui berbagai kisah dan catatan sejarah tersebut, buku ini menjadi bacaan penting bagi generasi muda sebagai sarana refleksi untuk memahami sejarah lokal Sumenep secara lebih mendalam. Pembaca diajak menelusuri strategi dakwah, dinamika politik, serta hubungan antara ulama, kiai, dan penguasa dalam proses pembentukan masyarakat Sumenep. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menghadirkan catatan sejarah, tetapi juga membuka ruang pemahaman tentang bagaimana nilai-nilai budaya, agama, dan politik saling bertaut dalam perjalanan sejarah daerah.

Identitas Buku:

Judul : Babad Modern Sumenep

Penulis : Zainollah Ahmad, S.Pd

Penerbit : Araska Publisher

Cetakan : Maret 2018

Tebal : 326 halaman

ISBN : 978-602-51599-1-6

Peresensi:

Abdul Warits — Penulis lepas. Saat ini mengabdi di PCNU Sumenep sebagai Sekretaris LTN PCNU Sumenep, serta menjadi staf humas di Universitas Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *