BeritaDaerah

Mahasiswa KKN Universitas Annuqayah Posko 51 Dampingi UMKM Krupuk Daun Kelor di Desa Sotabar, Pamekasan

124
×

Mahasiswa KKN Universitas Annuqayah Posko 51 Dampingi UMKM Krupuk Daun Kelor di Desa Sotabar, Pamekasan

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa KKN Posko 51 Universitas Annuqayah berfoto bersama pelaku UMKM Desa Sotabar dan pemateri Ibu Titik Umi Arwati usai kegiatan pendampingan produksi dan pemasaran krupuk daun kelor. Foto/Klik Times.

PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah yang tergabung dalam Posko 51 memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM di Desa Sotabar, Kecamatan Pasean, Pamekasan. Fokus utama kegiatan ini adalah produksi krupuk daun kelor dengan memanfaatkan strategi digital marketing agar mampu menembus pasar lebih luas.

Tidak hanya terlibat dalam proses produksi, mulai dari pengolahan adonan, pencetakan, pengeringan, hingga pengemasan, mahasiswa juga mendukung pelaku UMKM dari sisi branding dan promosi. Pendekatan ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing produk lokal di tengah ketatnya persaingan industri makanan ringan.

Pendampingan semakin bernilai dengan hadirnya pemateri, Ibu Titik Umi Arwati, yang membimbing peserta mengenai teknik produksi krupuk daun kelor sekaligus strategi pemasaran berbasis digital. Kehadiran digital marketing disebut sebagai jalan baru agar produk khas desa tidak hanya berputar di pasar lokal, tapi bisa dikenal luas bahkan ke luar daerah.

Ketua KKN Posko 51, Abd.Hasib, mengatakan bahwa pendampingan ini adalah bentuk nyata kontribusi mahasiswa untuk masyarakat desa.

“Kami ingin UMKM di Desa Sotabar bisa naik kelas. Kelor punya nilai kesehatan tinggi, dan jika dikemas serta dipasarkan dengan baik, krupuk daun kelor bisa jadi produk unggulan yang membanggakan,” ujarnya kepada Klik Times, Minggu (21/9/2025).

Menurut Abd. Hasib, mahasiswa tidak ingin sekadar hadir lalu pergi tanpa meninggalkan dampak.

“Kami berkomitmen agar program ini benar-benar memberi manfaat jangka panjang. Dengan digital marketing, produk desa tidak hanya berhenti di warung kecil, tapi bisa dipasarkan lewat media sosial atau marketplace. Itu yang membuat produk semakin punya nilai,” imbuhnya.

Lebih lanjut Hasib juga menekankan pentingnya kolaborasi. Ia mengingatkan bahwa pengembangan UMKM tidak bisa hanya mengandalkan mahasiswa atau pelaku usaha, melainkan perlu dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.

“Kami berharap ilmu yang kami bawa bisa diteruskan oleh masyarakat. Jadi meski KKN selesai, usaha ini tetap berjalan dan berkembang,” katanya.

Apresiasi pun datang dari warga setempat yang melihat langsung keterlibatan mahasiswa dalam proses produksi. “Kami sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa. Bukan hanya soal tenaga, tapi mereka juga membawa ide-ide baru untuk memasarkan produk kami,” kata salah satu pelaku UMKM setempat.

Sebagai bentuk penghargaan, mahasiswa Posko 51 menyerahkan cenderamata kepada Ibu Titik Umi Arwati atas ilmu dan kontribusinya. Dengan program pendampingan ini, mahasiswa berharap UMKM Desa Sotabar mampu berkembang lebih pesat, produk krupuk daun kelor semakin dikenal luas, dan masyarakat desa bisa merasakan peningkatan kesejahteraan secara langsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *