SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Konser amal peduli bencana yang menghadirkan Mila Nurwanti dan Achmad Valen Akbar (Milen), jebolan Dangdut Academy 7, berlangsung cukup meriah di Stadion GOR A. Yani Panglegur, Sumenep, Jumat (2/1/2026) malam.
Ribuan penonton dari berbagai penjuru desa hingga pusat kota memadati arena, menjadikannya salah satu agenda hiburan terbesar di awal tahun.
Kemasan acara terbilang sukses. Panggung megah dengan tata cahaya modern berpadu dengan antusiasme penonton, menciptakan atmosfer meriah dan sarat semangat solidaritas. Dari kejauhan, konser ini tampak sebagai perayaan besar kepedulian kemanusiaan.
Namun di balik kemegahan panggung, perhatian publik justru tertuju pada hasil donasi yang berhasil dihimpun. Berdasarkan konfirmasi Kliktimes kepada Ketua Baznas Sumenep, Abd. Rahman, total donasi dari konser amal tersebut tercatat sekitar Rp70 juta.
Donasi itu berasal dari beberapa sumber, di antaranya Bupati Sumenep sebesar Rp20 juta, Cak Nawardi anggota DPD RI sebesar Rp20 juta, serta sekitar Rp30 jutaan dari sumbangan para penonton yang hadir langsung di lokasi konser.
Jika ditarik ke belakang, perbandingan pun tak terhindarkan. Di kota kelahiran Valen Akbar, Pamekasan, konser amal serupa yang dikomandoi Bawang Mas Group di bawah Haji Khairul Umam atau H. Her sebelumnya mampu menghimpun donasi hingga Rp1,1 miliar. Seluruh donasi tersebut diumumkan secara terbuka, melibatkan pejabat daerah, pengusaha, hingga komunitas.
Perbedaan capaian itu menjadi bahan perbincangan publik. Sebab, Sumenep dikenal sebagai daerah dengan aktivitas industri rokok lokal yang cukup kuat, bahkan pengusaha yang kerap dijuluki sebagai “Sultan Sumenep” justru tampak absen dan terkesan memilih mendonasikan diri di pembaringan mimpinya.
Namun pada momentum konser kemanusiaan ini, kontribusi dari pengusaha rokok lokal tercatat nihil. Dari pantauan di lapangan, hanya dua nama pengusaha rokok yang muncul ke ruang publik yakni PR Air Bening Jaya dan DRT Group.
Keduanya tercatat sebatas sebagai sponsor acara, tanpa keterangan terbuka mengenai nilai donasi kemanusiaan maupun kontribusi langsung bagi korban bencana Aceh dan Sumatera.
Situasi tersebut memunculkan tanda tanya. Publik menilai, jika industri rokok lokal mampu menopang acara hiburan berskala besar, seharusnya uluran tangan pada sisi kemanusiaan dapat ditampilkan secara lebih nyata dan transparan.
Sementara pengusaha rokok lain yang selama ini dikenal beroperasi di Sumenep, justru tak terdengar kehadirannya, seolah para “Sultan Sumenep” memilih tertidur pulas di tengah kebutuhan partisipasi sosial.
Seorang penonton bernama Fajar yang tergabung dalam komunitas penggemar Milen DA7 menyebut, kontribusi yang paling terlihat justru datang dari masyarakat biasa.
“Yang kelihatan nyumbang ya penonton. Padahal ini konser amal,” ujarnya singkat kepada Kliktimes.
Di sisi lain, panitia juga terlihat mengedarkan kotak amal kepada penonton di tengah konser. Upaya tersebut mendapat respons positif, meski dinilai belum mampu menutup ekspektasi publik terhadap peran para pemilik modal besar di daerah.
Partisipasi pengusaha dinilai menjadi kunci dalam membangun kepercayaan publik pada kegiatan kemanusiaan. Di tengah gemerlap panggung dan riuhnya konser, publik Sumenep kini menanti kehadiran nyata pengusaha rokok lokal di lain kesempatan agar kepedulian tidak berhenti pada baliho sponsor dan solidaritas tak berakhir sebagai slogan semata.
Pertanyaan itu kini menggantung di ruang publik: akankah mesin parembegen para pengusaha Sumenep terpantik dipanaskan? Riuh harap masih bergema, menunggu langkah nyata para pemilik modal untuk mengulurkan tangan kepada saudara-saudara yang tertimpa bencana di Aceh dan Sumatera.
Sebab, dalam perkara kemanusiaan, keajaiban sering datang tanpa aba-aba dan pada saat yang paling tak terduga, segalanya selalu di mungkinkan terjadi. Wallahu a’lam.













