KOLOM | KLIKTIMES.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar urusan perut anak sekolah. Ia adalah janji negara, janji yang harus ditepati dengan hati yang jernih dan tangan yang bersih.
Dan kini, janji itu digembok oleh satu syarat kecil namun berbobot besar: Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS). Sepotong kertas sederhana yang bisa membuat sebuah dapur merasa seperti sedang diuji oleh kenyataan.
Pemerintah pusat sudah menancapkan palu. Zulkifli Hasan menyebutnya tanpa ragu: “Tidak ada tawar-menawar.” Ucapannya jatuh seperti batu ke permukaan air, melahirkan gelombang yang merambat ke seluruh SPPG. Bahwa higienitas bukan upacara formalitas. Ia adalah jam pasir kepercayaan; bila terbalik sembarangan, butiran-butirannya bisa tercecer dan hilang.
SLHS bukan kertas yang dibuat untuk menambah tumpukan map di rak kantor. Ia adalah cermin, cermin yang tidak bisa dibohongi. Seperti kata Kahlil Gibran, “Kebenaran selalu berjalan telanjang.” Dan dapur, mau tidak mau, harus juga tampil telanjang di depannya, apakah benar bersih, atau hanya berpura-pura bersih.
Letak kompor yang sempit, aliran air yang lambat, cara mengiris wortel yang asal-asalan semuanya tercatat oleh cermin itu. Ada dapur yang melenggang mulus karena disiplin, ada yang tersandung karena abai. Karena kebersihan bukan soal besar atau kecilnya dapur, tapi besar kecilnya komitmen.
Pengawasan kini berubah bentuk. Tidak lagi hanya vertikal. Pemerintah pusat mengatur, daerah menjaga, sekolah mengawasi, masyarakat menilai. Sebuah mata rantai panjang yang tampak kuat, tapi sesungguhnya rapuh. Sebab cukup satu mata rantai yang kotor, seluruh program bisa ternodai.
Di lapangan, tidak semua dapur berdiri dengan kepala tegak. Ada yang masih gemar menggunakan kalimat pelarian: “sedang proses.” Termasuk dapur SPPG Guluk-Guluk di bawah Yayasan Dakwah Sosial Bani Ishak. Kontroversi muncul setelah Kepala SPPG menjawab dengan nada defensif, lebih mirip perisai daripada penjelasan.
Ketika diminta kejelasan, jawabannya kembali mengambang: “sertifikat sudah dalam proses.” Kalimat yang terdengar aman, aman untuk diucapkan, tapi tidak aman untuk dipertanggungjawabkan. “Dalam proses” itu seperti ramalan hujan yang tak pernah jadi turun; langit tetap cerah, tanah tetap kering tapi alasan tetap diulang.
Namun begitu, keresahan tak menafikan kemungkinan lain: jangan-jangan SPPG se-Kecamatan Guluk-Guluk statusnya sama. Sebab bisik-bisik itu kini kian bergulir dari ruang grup WA hingga curhatan yang dibalut kekhawatiran.
Di sinilah SLHS menunjukkan dirinya sebagai lebih dari sekadar aturan. Ia adalah batas tegas antara kepastian dan pembenaran. Program MBG tidak bisa berjalan berdasarkan kata “sebentar”, “nanti” atau “tunggu saja”. Anak-anak tidak makan janji. Mereka makan makanan yang harus dijamin aman.
Dapur tanpa SLHS mungkin penuh semangat, tetapi semangat tanpa standar hanyalah kapal tanpa kompas. Ia bisa berjalan, tetapi tidak tahu apakah menuju pelabuhan atau menuju karang.
SLHS memberi pesan yang lebih dalam, kebersihan adalah bagian dari pendidikan. Anak-anak mungkin tak membaca manual sanitasi, tetapi mereka belajar dari dapur yang jujur. Dari piring yang bersih mereka belajar disiplin. Dari proses memasak yang terbuka mereka membaca kejujuran. Dari dapur yang higienis mereka memahami bahwa tanggung jawab tidak bisa disembunyikan di balik panci.
Program MBG kini berada di persimpangan dua jalan. Di satu sisi, ada komitmen pemerintah yang semakin tegas. Di sisi lain, ada dapur yang masih menabung alasan. Tetapi satu hal pasti era “operasi sementara” telah selesai. Era kompromi resmi ditutup pintunya.
SLHS bukan sekadar bukti hitam-putih. Ia adalah stempel bahwa negara tidak hanya pandai berjanji, tapi juga sanggup bekerja. Dari kementerian hingga pelosok desa, sertifikat ini menjadi jembatan kecil yang membawa makanan bergizi menuju masa depan anak.
Dan masa depan itu, meminjam hikmah Gibran, adalah “anak panah yang ditembakkan ke hari esok.” Bila busurnya kotor, panahnya tidak akan melesat jauh.
Karena itu, dapur jangan hanya dibersihkan tetapi dapur harus dimurnikan. Sebab masa depan, seperti dapur, tidak boleh kotor.
*) M. Faizi, Pegiat Media.











