Opini

Kebenaran yang Tersisih

77
×

Kebenaran yang Tersisih

Sebarkan artikel ini
Husnul Muttaqin, Mahasiswa STIT Al-Ibrohimy Bangkalan (Foto:Klik Times).

OPINI, Klik Times – Di tengah gelombang deras informasi digital yang terus membanjiri kehidupan masyarakat modern, kebenaran seringkali tidak lagi berdiri kokoh. Ia tersisih oleh narasi emosional, kabar palsu, dan mitos yang dikemas dengan bahasa meyakinkan. Fenomena ini dikenal sebagai era post-truth, ketika opini publik lebih dipengaruhi oleh emosi dan kepercayaan pribadi daripada fakta objektif.

Madura sebagai wilayah yang kaya akan tradisi, keagamaan yang kuat, dan ikatan sosial yang erat, tidak luput dari dampak era ini. Masyarakat yang sebelumnya hidup dengan pola komunikasi lisan dan narasi-narasi lokal kini berhadapan dengan arus informasi global yang tak terfilter. Di sinilah persoalan muncul: ketika hoaks dibalut simbol agama, mitos dipolitisasi, dan media sosial menjadi sarana penyebaran kebohongan, maka yang jadi korban pertama adalah kebenaran itu sendiri.

Tradisi Lisan dan Budaya Mitos di Madura

Madura memiliki warisan budaya lisan yang sangat kuat. Kisah-kisah orang sakti, benda pusaka, dan kejadian luar biasa bukan hanya menjadi bagian dari cerita rakyat, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat dalam memaknai kehidupan. Budaya ini sebenarnya menjadi kekayaan identitas. Namun, dalam era digital, ketika cerita-cerita ini dikaitkan dengan isu politik atau agama, ia bisa menjadi alat manipulasi yang berbahaya.

Di tengah masyarakat yang belum seluruhnya melek literasi digital, kisah-kisah mistik bisa berubah menjadi “fakta alternatif”. Jika dulu mitos hanya diceritakan secara turun-temurun di lingkup keluarga, kini ia menjelma menjadi pesan berantai di WhatsApp dan status Facebook yang seolah kredibel, padahal tidak berdasar.

Post-truth dan Emosi yang Mengalahkan Fakta

Istilah post-truth menandai sebuah kondisi di mana fakta objektif tak lagi menjadi faktor utama dalam membentuk opini publik. Yang lebih berpengaruh adalah emosi dan keyakinan pribadi. Masyarakat Madura, dengan ikatan sosial dan emosional yang kuat, sangat rentan terhadap model komunikasi semacam ini.

Ketika sebuah informasi menyentuh sisi emosional, misalnya menyangkut tokoh agama, kebanggaan daerah, atau kehormatan keluarga, maka kebenaran faktual seringkali dikorbankan. Orang lebih percaya pada apa yang membuatnya merasa nyaman atau sejalan dengan perasaannya, bukan pada apa yang bisa dibuktikan secara logis.

Manipulasi Politik Berbasis Hoaks dan Simbol Agama

Di musim-musim politik, hoaks menjadi senjata utama. Calon tertentu dijatuhkan bukan karena program kerjanya yang lemah, tapi karena rumor yang mengatakan dia tidak direstui “kiai besar”, atau bahwa ia memiliki “aura negatif”. Ada pula narasi bahwa memilih calon A akan membawa berkah, sementara memilih calon B akan membuat sawah gagal panen. Ini bukan hanya tidak masuk akal, tetapi juga sangat menyesatkan.

Simbol agama dan budaya sering dijadikan alat untuk membungkus kebohongan. Ketika sebuah pesan menyebut “kata kiai”, “kata guru ngaji”, atau “menurut habib”, maka sebagian masyarakat langsung percaya tanpa bertanya: siapa kiai itu? Di mana ia menyampaikannya? Apakah benar beliau berkata demikian? Ketiadaan verifikasi membuka ruang besar bagi manipulasi.

Media Sosial: Ladang Subur Disinformasi

Media sosial seperti Facebook dan WhatsApp sangat populer di Madura. Namun sayangnya, pemanfaatannya belum diiringi dengan kesadaran literasi digital. Banyak informasi yang viral tanpa pernah dicek sumbernya. Bahkan ada akun palsu mengatasnamakan tokoh agama atau pesantren ternama untuk menyebarkan narasi-narasi menyesatkan.

Masyarakat yang terbiasa menerima informasi satu arah dari tokoh panutan atau majelis taklim, kini dihadapkan pada informasi bebas yang tak punya filter. Ini menimbulkan kebingungan sekaligus polarisasi. Kebenaran tidak lagi satu, tetapi tergantung siapa yang menyampaikannya.

Solusi: Edukasi Tabayyun dan Literasi Kritis

Menghadapi ini, prinsip “tabayyun” dalam Islam menjadi sangat relevan. Masyarakat harus diajak untuk tidak langsung percaya pada setiap informasi yang datang, terutama yang menimbulkan rasa takut, marah, atau kebencian. Harus ada semangat untuk bertanya, mencari kebenaran, dan berpikir jernih.

Para ustadz, guru, dan kiai harus mengambil peran aktif. Ceramah dan pengajian bisa diselipkan dengan ajakan untuk bijak bermedia sosial. Para tokoh agama harus menegaskan bahwa menyebarkan hoaks termasuk perbuatan dosa, karena menyebabkan kerusakan dan fitnah di tengah umat.

Peran Strategis Generasi Muda Madura

Anak muda Madura yang akrab dengan internet dan aktif bermedia sosial punya tanggung jawab besar. Mereka bisa menjadi filter pertama dalam keluarga dan lingkungan sosial. Komunitas-komunitas pemuda harus digerakkan untuk membuat konten edukatif, kampanye anti hoaks, dan pelatihan literasi digital. Santri dan mahasiswa bisa memimpin gerakan ini.

Ketika generasi muda berani menyuarakan kebenaran, sekalipun bertentangan dengan arus mayoritas, maka harapan akan kebangkitan nalar di Madura tetap terbuka. Post-truth bisa dilawan, tapi hanya oleh mereka yang berani berpikir kritis dan konsisten menyuarakan fakta.

Penutup: Merebut Kembali Kebenaran yang Tersisih

Kebenaran hari ini memang sering tersisih oleh narasi yang emosional dan menyesatkan. Namun hal itu bukan akhir dari segalanya. Madura memiliki tradisi kecerdasan spiritual dan intelektual yang kuat. Pesantren, tokoh masyarakat, dan generasi muda bisa menjadi pilar utama untuk merebut kembali ruang kebenaran yang selama ini dipenuhi oleh mitos dan hoaks. Dengan sinergi semua elemen, Madura bisa bangkit dari jerat post-truth dan kembali menjadi tanah yang menjunjung akal sehat dan nilai-nilai kebenaran.

***

**) Opini Ditulis Husnul Muttaqin, Mahasiswa STIT AL-IBROHIMY Bangkalan

**) Tulisan Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak termasuk tanggung jawab media klik Times.id

**) Rubrik terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata

**) Artikel Dikirim ke email resmi redaksikliktimes@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirimkan apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Klik Times.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *