Kolom

Jalan Terjal Industri Rokok Madura

29
×

Jalan Terjal Industri Rokok Madura

Sebarkan artikel ini
Novil Suryadi.

KOLOM | KLIKTIMES.ID – Tembakau mulai dikenal luas di Madura sekitar abad ke-18. Kondisi tanah yang kering dan iklim yang panas ternyata sangat cocok untuk menghasilkan tembakau berkualitas tinggi, khususnya jenis tembakau rajangan yang digunakan sebagai bahan utama rokok kretek.

Sejak saat itu, masyarakat Madura mulai menjadikan tembakau sebagai tanaman musiman andalan selain jagung dan palawija. Seiring waktu, tembakau tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari budaya masyarakat Madura.

Ada istilah lokal yang menggambarkan pentingnya tembakau, yakni sebagai “emas hijau” Madura. Berabad-abad lamanya tembakau sudah menjadi urat nadi dan bagian hidup tidak terpisahkan bagi masyarakat madura, menyatu dalam harapan, impian serta keberlanjutan kehidupan.

Tidak heran jika Produk-produk besar seprti PT HM Sampoerna tanpa malu dan ragu, menuliskan dalam kemasan produk rokoknya berbahan tembakau Madura. Tapi seperti halnya wilayah pedesaan Indonesia, petani tembakau Madura bertahun-tahun lamanya hidup sistem pasar yang tidak menguntungkan.

Bagaimana tidak posisinya begitu sangat lemah, setiap musim panen tembakau tiba petani tembakau acapkali dihadapkan pada situasi pasar yang tidak menentu. Posisi petani kerap berada pada titik lemah, pada mata rantai pasok ke industri rokok besar.

Tidak tumbuhnya industri rokok lokal memperkuat dan memperlebar jarak sistem pasar, yang kerap membuat petani tidak berdaya tembakau nya dihargai murah. Mimpi tentang kesejahteraan ekonomi lewat si emas hijau seolah sirna.

Harapan kembali muncul dalam dekade lima hingga tuju tahun belakangan, ketika beberapa industri rokok di Madura mulai bermunculan. Kondisi ini seolah menjadi berkah tidak ternilai bagi petani harga tembakau setiap musim paneh kembali stabil, upaya mendekatkan diri industri terhadap petani menjadi momentum titik balik kebangkitan tembakau Madura.

Namun, sudah menjadi hukum sejarah niat baik tidak selalu berjalan mulus. Industri rokok Madura harus menempuh jalan terjal nan berliku terganjal dari dalam, diserang opini dijejali framing yang jika dibiarkan akan mengubur mimpi besar tembakau Madura, serta mengembalikan petani dalam pangkuan industri rokok besar yang menghisap keringat dan peluh petani.

Jalan Terjal

Dalam Teori framing dari Entman, narasi dan realitas bisa direkayasa melalui seleksi informasi dan penekanan pada aspek-aspek tertentu. Hal itulah yang dilakukan banyak pihak mulai dari yang mengatasnamakan, aktivis hingga se level legislator terhadap keberadaan industri tembakau di Madura.

Dimana mereka mengeksploitasi satu aspek dari industri rokok Madura yaitu, ilegal. Narasi ini terus digaungkan seolah menjadi sebuah kebenaran yang harus diterima oleh negara sebagai representasi kolektif masyarakat khususnya di Pulau Madura.

Situasi ini membuat jalan yang harus dilalui industri rokok Madura menjadi terjal. Adanya produk rokok ilegal memang benar adanya, tapi membungkus secara general adalah upaya framing untuk menjatuhkan mimpi yang sudah dirajut puluhan tahun lamanya.

Satu barangkali yang dilupa oleh aktivis Madura dan legislator asal Madura itu, sebagai generasi intelektual dan pemimpin harusnya belajar dari Soekarno untuk menempelkan telinga ke tanah agar dapat mendengar derap langkah rakyat, mencium bau keringat petani tembakau dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Pola ini telah menjadi stigma seolah industri rokok di Madura adalah ilegal, demikianlah ketika para aktivis dan wakil rakyat terpisah dari detak jantung rakyat.

Tetaplah Teguh

Ditengah awan gelap stigmatisasi industri rokok Madura yang menghiasi Langit-langit. Satu harapan yang masih diselipkan dalam do’a kepada para pelaku industri agar tetap teguh melewati segala badai narasi dan tekanan yang datang.

Sebab keberadaan industri rokok di Madura secara implisit telah merealisasikan, apa yang disebut oleh Albert O. Hirschman dalam Linkage Theory tersedianya bahan baku dan olahan atau yang populer disbeut hilirisasi.

Bahan baku tembakau di Madura sangat berlimpah, sehingga dapat mempermudah produksi rokok. Selain dapat meningkatkan harga tembakau milik petani karena mempersempit jarak pasok, juga membuka banyak lapangan pekerjaan di pedesaan Kabupaten Sumenep.

Jika ini dihilangkan hanya karena suara sumbang yang tidak napak bumi. Ini akan menjadi kecelakaan sejarah dalam rentang perjalanan panjang tembakau Madura yang sudah mengakar.

*) Novil Suryadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *