SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Potret miris terjadi di Dusun Padanan, Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Warga setempat terpaksa turun tangan memperbaiki jalan rusak dengan cara swadaya pada Selasa (2/9/2025).
Di tengah keterbatasan alat dan bahan, mereka hanya mengandalkan cangkul, sekop dan gerobak untuk menimbun lubang jalan. Padahal, jalan tersebut merupakan akses vital warga menuju sekolah, pasar hingga fasilitas kesehatan sehari-hari.
Ironisnya, kerja bakti itu dilakukan di tengah fakta bahwa Dana Desa Lenteng Barat tahun 2025 tercatat mencapai Rp1.858.794.000 (satu miliar delapan ratus lima puluh delapan juta tujuh ratus sembilan puluh empat ribu rupiah). Kontras antara besarnya anggaran desa dengan kondisi jalan yang terbengkalai pun kian memantik tanda tanya.
Salah seorang pemuda setempat, M. Darol, tak kuasa menutupi kekecewaannya. Ia menyebut kerusakan jalan yang dibiarkan begitu lama menjadi bukti lemahnya perhatian pemerintah desa terhadap kebutuhan dasar warganya.
“Anak-anak sekolah harus susah payah melewati jalan berlubang, pedagang pun kerepotan membawa barang dagangan. Pertanyaannya, untuk apa ada dana desa miliaran kalau jalan yang jadi urat nadi warga malah dibiarkan rusak?” tegas Darol kepada Klik Times, Rabu (3/9/2025).
Menurut Darol, warga sebenarnya sudah berulang kali melaporkan persoalan tersebut. Namun, tak ada langkah nyata yang ditempuh pemerintah desa. Situasi itu, kata dia, akhirnya membuat masyarakat mengambil inisiatif sendiri dengan memperbaiki sekadarnya.
“Ini bukan solusi, hanya upaya darurat agar jalan bisa dilalui. Kami berharap pemerintah desa sadar bahwa infrastruktur seperti jalan bukan kebutuhan tambahan, tapi kebutuhan mendesak,” ujarnya.
Dalam pantauan Klik Times pada Selasa (2/9/2025), sejumlah warga tampak bekerja keras di bawah terik matahari. Mereka bergantian mengangkut batu, semen dan tanah untuk menutup lubang-lubang besar yang kian membahayakan pengendara. Meski hanya tambal sulam, warga berharap perbaikan darurat ini bisa bertahan sementara waktu.
Lebih lanjut Darol menegaskan, dengan dana desa yang mencapai Rp1,8 miliar, seharusnya pemerintah desa mampu memprioritaskan pembangunan yang menyentuh langsung kepentingan warga. Ia khawatir dana sebesar itu justru tak jelas peruntukannya bila persoalan mendasar semacam ini dibiarkan.
“Jangan sampai dana sebesar itu habis entah untuk apa, sementara jalan yang jelas-jelas dibutuhkan semua orang justru diabaikan,” katanya lantang.
Sementara itu, Klik Times masih berupaya mencari akses komunikasi dengan Pemerintah Desa Lenteng Barat untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut. Hingga kini, pihak pemerintah desa belum memberikan penjelasan terkait kerusakan jalan maupun alokasi anggaran untuk perbaikannya.
Situasi ini membuat keresahan warga semakin menguat. Mereka mendesak adanya transparansi penggunaan dana desa yang nilainya mencapai miliaran rupiah agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.












