BeritaNasional

HIMAPOL UIN Jakarta Gelar Kampanye Damai, Angkat Isu September Hitam di CFD Bundaran HI

142
×

HIMAPOL UIN Jakarta Gelar Kampanye Damai, Angkat Isu September Hitam di CFD Bundaran HI

Sebarkan artikel ini
Para anggota HIMAPOL UIN Jakarta berpose bersama usai menggelar kampanye damai bertema September Hitam di kawasan CFD Bundaran HI. Foto/Klik Times.

JAKARTA | KLIKTIMES.ID – Suasana Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Minggu (21/9/2025), jadi panggung gerakan moral Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekitar 50 mahasiswa menggelar kampanye damai bertajuk “A Policy Brief on Car Free Day: On Memorial Trouble, Berapa Banyak Korban Lagi?” yang menyoroti isu hak asasi manusia (HAM) dan tragedi September Hitam.

Massa berkumpul sejak pukul 08.00 WIB di Bundaran HI, lalu melakukan long march menuju trotoar Stasiun MRT Dukuh Atas. Sepanjang perjalanan, mereka mengusung poster berisi seruan kemanusiaan, kritik sosial, dan tuntutan penegakan keadilan.

Aksi ini merupakan bagian dari program rutin September Hitam HIMAPOL. Mereka ingin mengingatkan publik soal kasus pelanggaran HAM yang belum tuntas, seperti Tragedi Tanjung Priok, Tragedi Semanggi II, hingga kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.

“Kami mengangkat tema ini untuk menegaskan bahwa peristiwa kelam itu bukan sekadar sejarah, tapi persoalan kemanusiaan yang masih menggantung,” ujar Satrio Ibra Maulana, Kepala Departemen Kajian Strategis HIMAPOL.

Tak hanya orasi, HIMAPOL juga membagikan bahan bacaan kritis berupa selebaran artikel dan zine sederhana kepada warga CFD. Mereka juga membuka ruang partisipasi publik lewat donor aspirasi, sebuah karton besar bertajuk “Petisi Warga” tempat masyarakat bebas menulis kritik maupun harapan.

Respon warga cukup antusias. Ratusan tanda tangan dan catatan aspirasi memenuhi karton tersebut. Salah satu pengunjung CFD mengaku tersentuh dengan aksi mahasiswa ini.

“Awalnya saya cuma lewat buat olahraga, tapi selebaran ini membuka mata saya. Banyak peristiwa HAM yang belum saya tahu detailnya. Saya berharap pemerintah lebih transparan dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Kepala Biro Keilmuan HIMAPOL, Ahmad Farhan Saukani, menegaskan aksi ini bukan hanya ditujukan untuk mahasiswa. “Sasaran kami semua warga CFD. Bahkan mereka yang menolak selebaran pun bagian dari target kami. Kami ingin percakapan soal HAM menjangkau semua lapisan,” katanya.

Senada, Aziz Basyarahil dari Biro Keilmuan HIMAPOL menyebut aksi ini bertujuan menghidupkan kembali percakapan tentang HAM di ruang publik. “Kami turun ke jalan bukan untuk gaduh, tapi untuk mengingatkan bahwa keadilan dan etika sosial bukan urusan kampus saja,” ujarnya.

Puncak aksi terjadi di depan Central Village, Stasiun MRT Dukuh Atas. Massa HIMAPOL membacakan pernyataan sikap dan menegaskan desakan agar pemerintah tidak tinggal diam atas berbagai pelanggaran HAM. Warga yang menyaksikan memberikan tepuk tangan dan dukungan moral.

Lewat aksi ini, HIMAPOL UIN Jakarta menegaskan komitmennya keluar dari sekadar ruang akademik untuk hadir langsung di tengah masyarakat. Mereka percaya ilmu politik harus diwujudkan dalam aksi nyata yang menyentuh publik.

Dengan menggabungkan edukasi, aksi simbolis, dan partisipasi warga, HIMAPOL menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa masih relevan sebagai pengingat kolektif atas sejarah kelam bangsa. Aksi damai itu juga jadi seruan agar publik tetap aktif memperjuangkan nilai kemanusiaan, etika sosial, dan keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *