DaerahBerita

Festival Tembakau Madura Disorot, PR Maghfiroh Jaya Ditagih Transparansi Produksi

67
×

Festival Tembakau Madura Disorot, PR Maghfiroh Jaya Ditagih Transparansi Produksi

Sebarkan artikel ini
A. Nurdin Faynani, Aktivis Sumenep. Foto/Klik Times.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Festival Tembakau Madura di GOR A. Yani, Sumenep, kembali menjadi sorotan setelah muncul pertanyaan terkait integritas salah satu pabrikan rokok lokal, PR Maghfiroh Jaya.

Produk mereka, seperti Hafa Oren, Hafa Mangga, dan Hafa Original, ditampilkan dalam festival, namun jejak digital menimbulkan dugaan adanya “pabrikan hantu” yang sah secara legal tetapi tidak tampak aktivitas produksi nyata.

Fenomena ini memicu tanda tanya publik: apakah PR Maghfiroh Jaya benar-benar menjalankan proses produksi rokok atau sekadar membangun citra di panggung festival. Dugaan ini menjadi perhatian karena festival seharusnya menjadi etalase otentisitas industri tembakau Madura, bukan sekadar ajang pencitraan semu.

A. Nurdin Faynani, aktivis Sumenep, menilai festival seharusnya mengedepankan penghormatan terhadap petani dan perajin lokal yang sesungguhnya berkontribusi pada roda ekonomi daerah. “Jika sebuah pabrikan hanya muncul sebagai nama tanpa menunjukkan aktivitas produksi nyata, maka publik berhak mempertanyakan integritas industri tersebut. Festival harus menampilkan pabrikan yang benar-benar hidup, bukan sekadar nama di atas kertas,” ujar Nurdin, Rabu (3/9/2025).

PR Maghfiroh Jaya

Menurut Nurdin, transparansi menjadi kunci agar festival tetap memiliki makna. “Kita tidak bisa hanya terpukau oleh kemasan produk yang dipamerkan. Aktivitas produksi, jalur distribusi, dan kepatuhan terhadap peraturan, termasuk cukai, adalah indikator utama yang menentukan apakah sebuah pabrikan benar-benar berkontribusi pada ekonomi lokal,” tambahnya.

Mantan Aktivis HMI Pamekasan itu menekankan bahwa aparat, khususnya Satgas Bea Cukai, memiliki tanggung jawab untuk menindaklanjuti dugaan ini. “Satgas harus menelusuri jejak produksi dan memastikan bahwa setiap pabrikan yang tampil di festival memiliki kegiatan nyata. Ini penting agar masyarakat percaya bahwa festival bukan sekadar panggung pencitraan,” katanya.

Lebih jauh, Nurdin menyarankan adanya mekanisme verifikasi bagi semua peserta festival. “Publik dan pengamat industri berhak mengetahui siapa yang benar-benar menjalankan pabrik, siapa yang mematuhi regulasi, dan siapa yang sekadar bermain citra. Tanpa itu, festival berpotensi kehilangan kredibilitas dan maknanya sebagai ikon industri tembakau Madura,” ujarnya.

Hingga saat ini, pihak PR Maghfiroh Jaya belum memberikan klarifikasi resmi terkait pertanyaan publik tentang kegiatan produksi mereka. Sementara itu, masyarakat dan pengamat berharap festival tetap menjadi simbol otentisitas tembakau Madura, bukan sekadar panggung branding tanpa bukti produksi nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *