Olahraga

Dies Natalies HMI ke-79: Bukan Sekadar Seremoni, Melainkan Alarm Perjuangan

41
×

Dies Natalies HMI ke-79: Bukan Sekadar Seremoni, Melainkan Alarm Perjuangan

Sebarkan artikel ini
Baharuddin, Alumni HMI Sumenep. Foto/Ist.

OPINI | KLIKTIMES.ID – Sejak didirikan oleh Lafran Pane pada 14 Rabiul Awal 1366 H (5 Februari 1947), HMI telah menempuh perjalanan panjang sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia.

Setiap awal Februari, atmosfer perguruan tinggi di Indonesia selalu diwarnai dengan semangat “Hijau Hitam”. Bukan tanpa alasan, momentum ini menandai Dies Natalis HMI, sebuah organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia yang telah melintasi berbagai zaman. Namun, merayakan milad bukan sekadar tentang seremoni potong tumpeng atau reuni alumni.

Bagi kader ini adalah saatnya berefleksi: sejauh mana komitmen keumatan dan kebangsaan masih berdenyut dalam nadi perjuangan

Kondisi sosiopolitik saat itu sangat krusial. Indonesia baru saja merdeka, namun ancaman agresi militer Belanda masih mengintai. Di sisi lain, dunia mahasiswa membutuhkan wadah yang mampu menyatukan nilai-nilai keislaman dengan semangat nasionalisme. HMI hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut, membawa misi ganda yang hingga kini dikenal sebagai “Dua Komitmen HMI”: Komitmen Keislaman dan Komitmen Kebangsaan.

Tema “Khidmat HMI Untuk Indonesia” bukanlah slogan kosong. Ini adalah representasi dari cara HMI bergerak selama hampir delapan dekade. HMI tidak memilih untuk menjadi eksklusif, melainkan inklusif dalam bingkai keindonesiaan.

Memasuki usia ke-79, HMI tidak hanya sekadar merayakan usia, namun melakukan refleksi filosofis atas eksistensinya di tengah arus perkembangan zaman.

Secara filosofis, fondasi HMI tertuang dalam Pasal 4 AD HMI yang menetapkan tujuan organisasi: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Aspek Ontologis: HMI memandang mahasiswa sebagai agen perubahan yang memiliki tanggung jawab ganda (transendental kepada Tuhan dan sosial kepada manusia).

Aspek Epistemologis: Melalui independensi etis dan organisatoris, kader didorong untuk memiliki kebebasan berpikir demi melahirkan pembaruan.

Kata “Khidmat” menunjukkan kerendahan hati dan totalitas dalam melayani kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Merayakan Dies Natalis HMI di era sekarang berarti bicara tentang literasi digital, pemanfaatan artificial intelligence untuk riset sosial, hingga peran aktif dalam menjaga ruang siber dari polarisasi yang merusak persatuan. Harmoni perjuangan kini juga berarti harmoni di ruang digital.

HMI bukan hanya organisasi tempat berkumpul, tapi universitas kedua yang mengajarkan kita cara mencintai Indonesia dengan cara yang paling cerdas.”

 

*) Oleh: Baharuddin, Alumni HMI Sumenep. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *