Opini

CSR PT. KEI di Pagerungan: Tulus Membantu atau Sekadar “Cuci Tangan” lewat Citra?

303
×

CSR PT. KEI di Pagerungan: Tulus Membantu atau Sekadar “Cuci Tangan” lewat Citra?

Sebarkan artikel ini
Pagerungan Gas Field.

OPINI | KLIKTIMES.ID – Pulau Pagerungan di Sumenep adalah potret kontras yang nyata. Di satu sisi, ia adalah pusat denyut nadi energi nasional melalui operasional PT. Kangean Energy Indonesia (KEI). Di sisi lain, masyarakat lokal di Pagerungan Besar maupun Pagerungan Kecil masih sering terjebak dalam keterbatasan infrastruktur dan ekonomi.

Di balik pagar kokoh operasional PT. Kangean Energy Indonesia (KEI), teknologi mutakhir bekerja mengekstraksi kekayaan bumi, sementara di luarnya, masyarakat Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil masih harus bergelut dengan infrastruktur yang timpang dan akses ekonomi yang terbatas.

Ketimpangan ini menciptakan jurang lebar antara gemerlapnya industri migas dengan realitas sosial warga lokal, memicu pertanyaan kritis mengenai sejauh mana kehadiran raksasa energi ini benar-benar memberikan nilai tambah bagi “tuan rumah” yang tanahnya dieksploitasi.

Di tengah disparitas yang nyata tersebut, program Corporate Social Responsibility (CSR) muncul sebagai janji manis untuk menjembatani kesenjangan. Namun, dalam perspektif Ilmu Komunikasi, sulit untuk tidak mempertanyakan apakah deretan program bantuan tersebut lahir dari komitmen moral yang tulus untuk memberdayakan, atau sekadar strategi “cuci tangan” korporasi demi meredam gejolak sosial.

Jika CSR hanya bersifat karitatif dan seremonial tanpa menyentuh akar permasalahan kemandirian warga, maka ia tak lebih dari sekadar instrumen pencitraan untuk memuluskan operasional perusahaan di tengah eksploitasi alam yang masif.

Ketulusan PT. KEI kini dipertaruhkan: apakah mereka akan menjadi mitra pembangunan yang sejati bagi Pagerungan, atau hanya menjadi tamu yang memoles wajah dengan bantuan sementara sebelum akhirnya pergi meninggalkan jejak kerusakan.

Bagi masyarakat Pagerungan, kehadiran PT. KEI adalah realitas sehari-hari. Deru industri adalah musik latar kehidupan mereka. Namun, dalam perspektif Ilmu Komunikasi Korporat, kehadiran fisik perusahaan saja tidak cukup. Perusahaan harus memiliki “izin sosial” (social license to operate). CSR seringkali menjadi alat utama untuk mendapatkan izin tersebut.

Masalah muncul ketika CSR hanya dipandang sebagai aktivitas seremonial. Di Pagerungan, isu-isu seperti akses listrik yang stabil, ketersediaan air bersih, hingga lapangan kerja bagi pemuda lokal selalu menjadi topik hangat.

Jika perusahaan hanya memberikan bantuan yang bersifat “hit and run” seperti bantuan sembako saat hari raya atau perbaikan fasilitas yang tidak berkelanjutan maka publik patut curiga. Apakah ini kepedulian, atau sekadar biaya keamanan agar warga tidak melakukan protes?

Paradoks “Gemerlap” dan “Gelap”

Industri migas secara alami bersifat ekstraktif. Ia mengambil kekayaan dari perut bumi Pagerungan untuk dibawa keluar. Secara teoritis, melalui konsep Triple Bottom Line, PT. KEI wajib menyeimbangkan aspek Profit, People, dan Planet. Namun, seringkali timbul persepsi bahwa perusahaan lebih sibuk memoles citra di laporan tahunan daripada mendengarkan rintihan di beranda rumah warga Pagerungan.

Dalam kacamata Komunikasi Pembangunan, CSR yang tulus haruslah bersifat dialogis, bukan monologis. Artinya, masyarakat Pagerungan tidak boleh hanya menjadi objek penerima bantuan, tetapi harus menjadi subjek yang menentukan arah pembangunan desa mereka.

Jika program CSR dirancang di kantor mewah Surabaya atau Jakarta tanpa memahami denyut nadi di Pagerungan, maka jangan salahkan masyarakat jika mereka menganggap itu hanya pencitraan untuk menutupi dampak lingkungan dan sosial yang timbul.

Ketulusan PT. KEI diuji lewat keberlanjutan. Pagerungan tidak butuh “kedermawanan” yang hanya muncul saat ada masalah atau saat masa kontrak akan habis. Masyarakat butuh pemberdayaan yang membuat mereka mandiri bahkan ketika nanti sumber gas di wilayah tersebut telah kering.

CSR tidak boleh sekadar menjadi “uang damai” untuk meredam konflik. Ia harus menjadi investasi sosial yang nyata. Jika PT. KEI benar-benar tulus, maka komunikasi yang dibangun haruslah transparan: Berapa besar dampak yang benar-benar dirasakan warga? Seberapa banyak anak muda Pagerungan yang berhasil mandiri karena program mereka?

Pagerungan adalah rumah bagi warga Sumenep, bukan sekadar koordinat lokasi tambang. Sebagai mahasiswa komunikasi, kita melihat bahwa citra yang kuat tidak dibangun dari rilis berita yang indah, melainkan dari jejak manfaat yang tertinggal di pasir pantai Pagerungan.

Sudah saatnya PT. KEI membuktikan bahwa mereka ada di sana bukan hanya untuk mengebor gas, tapi juga untuk menanam harapan. Jangan sampai CSR hanya menjadi alat “cuci tangan” di saat tangan tersebut sedang sibuk mengeruk kekayaan alam mereka.

 

*)Noval, Mahasiswa Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *