BeritaDaerah

Bupati Sampang Tegaskan Aksi Perusakan Bukan Ulah Warga Lokal: “Kalau Orang Sampang, Pasti Menjaga”

106
×

Bupati Sampang Tegaskan Aksi Perusakan Bukan Ulah Warga Lokal: “Kalau Orang Sampang, Pasti Menjaga”

Sebarkan artikel ini
Bupati Sampang H. Slamet Junaidi saat menyampaikan sambutan pada Malam Puncak Hari Santri Nasional di Alun-Alun Trunojoyo. Foto/Klik Times.

SAMPANG | KLIKTIMES.ID – Bupati Sampang, H Slamet Junaidi, menegaskan bahwa aksi perusakan fasilitas umum pasca demonstrasi di wilayahnya bukan dilakukan oleh warga Sampang.

Dia menilai, masyarakat Sampang memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap daerahnya dan tidak mungkin merusak hasil pembangunan yang telah diperjuangkan bersama.

Pernyataan tersebut disampaikan Slamet Junaidi dalam sambutannya pada malam puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-Alun Trunojoyo, Jumat (31/10/2025) malam. Ribuan santri, ulama, dan masyarakat tampak memadati area acara untuk mengikuti kegiatan yang berlangsung khidmat sekaligus meriah itu.

“Banyak yang dirusak, jadi menurut saya yang merusak itu bukan orang Sampang. Kalau dia orang Sampang, pasti dia merasa memiliki dan ingin menjaga,” ujar Bupati yang akrab disapa Haji Idi itu di hadapan para hadirin.

Lebih lanjut Haji Idi menyebut, aksi demonstrasi pada dasarnya merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang sah. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak anti terhadap kritik. Sebaliknya, ia membuka ruang selebar-lebarnya bagi masyarakat, termasuk kalangan santri, untuk memberikan saran maupun masukan kepada Pemkab Sampang.

“Kalau soal demo saya tidak masalah. Kami tidak anti kritik. Silakan, apapun bentuk kritik dan masukan dari masyarakat, monggo. Kalau perlu melihat pengguna anggaran di Kabupaten Sampang, saya siap buka semuanya,” ucapnya tegas.

Namun, Haji Idi menekankan bahwa aksi perusakan fasilitas umum tidak bisa ditoleransi karena merugikan masyarakat luas. Ia mengingatkan bahwa seluruh infrastruktur publik dibangun menggunakan uang rakyat, bukan dana pribadi pejabat.

“Kalau ada pengerusakan, itu bukan orang Sampang. Maka tugasnya Kapolres untuk menindak tegas. Kalau demonya saya setuju, tapi pengerusakannya saya tidak setuju,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Politisi Nasdem itu menjelaskan, pembangunan di Kabupaten Sampang hanya bisa berkelanjutan jika semua pihak menjaga stabilitas dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menghindari konflik yang dapat menghambat kemajuan daerah.

“Kita harus menghindari konflik kepentingan, baik pribadi maupun kelompok. Ayo kita berpikir untuk kepentingan yang lebih besar. Sampang bisa maju dan membangun kalau kita bersatu,” ujar Slamet Junaidi.

Kendati demikian, Bupati dua periode itu juga menyampaikan apresiasi terhadap peran para ulama dan santri yang selama ini menjadi garda moral pembangunan. Ia berharap doa dan dukungan mereka menjadi kekuatan spiritual dalam menjaga ketenteraman dan kemajuan daerah.

“Mudah-mudahan dengan doa para ulama dan santri yang luar biasa ini, Sampang bisa maju dan terus membangun. Jangan sampai yang sudah kita bangun dirusak oleh orang yang bukan orang Sampang. Kita siap menjaga Sampang?” serunya, disambut gemuruh takbir dari ribuan santri.

Sebelumnya, ratusan massa yang mengatasnamakan Forum Aktivis Madura bersama Aliansi Masyarakat Desa Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kabupaten Sampang, Selasa (28/10/2025.

Mereka menuntut agar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) segera dilaksanakan, lantaran hingga kini terdapat 143 desa yang masih dipimpin oleh penjabat (Pj) kepala desa.

Situasi semula berjalan kondusif. Massa menyuarakan aspirasinya melalui orasi dan spanduk yang menuntut kejelasan jadwal Pilkades. Namun, suasana mulai memanas ketika mereka dilarang memasuki halaman kantor DPRD untuk bertemu langsung dengan pimpinan dewan. Ketegangan pun tak terelakkan.

Aksi saling dorong antara massa dan aparat kepolisian terjadi di pintu gerbang utama. Untuk mengurai situasi yang semakin ricuh, petugas akhirnya menembakkan gas air mata ke arah kerumunan. Sebagian massa terpaksa mundur, sementara lainnya meluapkan kekesalan dengan merusak sejumlah hiasan dan fasilitas di kawasan Alun-Alun Trunojoyo, tepat di depan kompleks kantor DPRD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *