Berita

Bantuan Ternak KT Batu Langit Disorot: Prasasti Ghoib, Sapi Menyusut, Mesin Pencacah Diduga Dialihfungsikan

2476
×

Bantuan Ternak KT Batu Langit Disorot: Prasasti Ghoib, Sapi Menyusut, Mesin Pencacah Diduga Dialihfungsikan

Sebarkan artikel ini
Potret kandang sapi milik Kelompok Tani Batu Langit di Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Foto/Kliktimes.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Program bantuan ternak sapi untuk Kelompok Tani Batu Langit di Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur terus menjadi perbincangan hangat di ruang publik.

Program yang awalnya dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi petani itu kini memunculkan berbagai pertanyaan terkait pelaksanaan dan pengelolaannya.

Berdasarkan keterangan sumber terpercaya kepada Kliktimes, pembahasan di tengah masyarakat tidak lagi sebatas pada jumlah ternak atau kondisi kandang. Warga mulai menyoroti aspek tata kelola, akuntabilitas, hingga kesinambungan program. Perubahan struktur kepengurusan kelompok disebut menjadi salah satu poin penting karena berkaitan langsung dengan tanggung jawab pengelolaan bantuan.

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa telah terjadi pergantian kepengurusan pada periode berikutnya. Sosok yang sebelumnya menjabat sebagai ketua disebut tidak lagi memimpin kelompok saat ini.

“Untuk periode selanjutnya bukan K. Adim, tapi pada waktu itu K. Adim ketuanya,” ujar sumber tersebut, Kamis (20/2/2026).

Lebih lanjut, sumber juga menyinggung persoalan transparansi proyek. Prasasti yang lazim dipasang sebagai penanda pelaksanaan bantuan disebut tidak ditemukan di lokasi kegiatan.

“Berkaitan dengan prasasti diduga tidak dipasang,” ungkapnya.

Tak hanya itu, sumber turut menyoroti aspek administrasi penerima dan pelaksana kegiatan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, penerima bantuan tercatat atas nama Keraton Langit, sementara pelaksanaan kegiatan disebut menggunakan nama pihak lain.

“Penerimanya memang Keraton Langit, pelaksananya atas nama orang lain Khalid,” tuturnya.

Pada bagian lain, sumber menjelaskan mengenai fasilitas pendukung berupa mesin pencacah rumput. Alat tersebut disebut memang tersedia, namun muncul dugaan bahwa penggunaannya telah bergeser dari fungsi awal.

“Untuk mesin pencacah rumput ada, tapi mutakhir ini diduga digunakan untuk traktor. Dan kerangka traktornya dimungkinkan beli lain tapi mesinnya dari situ,” katanya.

Sementara itu, terkait kondisi terkini ternak di kandang kelompok, sumber menyebut jumlah sapi yang berada di lokasi berkisar empat hingga lima ekor. Ia juga menyampaikan bahwa tidak seluruh sapi tersebut merupakan milik kelompok.

“Mutakhir ini, sapi yang berada di kandang itu berkisar 4 sampai 5 ekor sapi. Namun itu tak sepenuhnya milik kelompok itu tapi geduen (Red:Madura) atau milik orang lain,” ujar sumber tersebut.

Sementara itu, eks Ketua Kelompok Tani Batu Langit, K. Abdul Adim, saat dikonfirmasi Kliktimes pada Kamis (12/2/2026), belum memberikan jawaban yang bersifat substantif. Dalam komunikasi tersebut, ia justru terkesan mengajukan pertanyaan balik kepada pewarta, sehingga belum ada penjelasan rinci terkait sejumlah isu yang berkembang di tengah masyarakat.

Kliktimes menegaskan akan terus menelusuri persoalan ini dengan mengedepankan prinsip keberimbangan, akurasi, dan verifikasi. Upaya konfirmasi kepada pihak-pihak terkait akan terus dilakukan guna memastikan duduk perkara secara utuh dan proporsional. Transparansi serta akuntabilitas menjadi hal penting agar program bantuan yang bersumber dari anggaran publik benar-benar memberi manfaat bagi kelompok tani dan tidak menyisakan tanda tanya di ruang publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *