Berita

Ansor Sumenep Soroti Nasib Petani Tembakau, Kontribusi Besar ke Negara Dinilai Belum Sejalan dengan Kesejahteraan

22
×

Ansor Sumenep Soroti Nasib Petani Tembakau, Kontribusi Besar ke Negara Dinilai Belum Sejalan dengan Kesejahteraan

Sebarkan artikel ini
KH Qumri Rahman menyoroti kondisi petani tembakau Madura yang dinilai belum sejahtera meski sektor tembakau memberi kontribusi besar bagi penerimaan negara. Foto/Ist.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumenep, KH Qumri Rahman, menyoroti kondisi petani tembakau di Indonesia, khususnya di wilayah Madura, yang dinilai belum mendapatkan perhatian optimal dari negara meski berkontribusi besar terhadap penerimaan nasional.

Menurutnya, Madura merupakan salah satu sentra utama produksi tembakau di Jawa Timur, bersama sejumlah daerah lain seperti Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, hingga Bojonegoro. Komoditas tembakau tidak hanya menjadi penggerak ekonomi daerah, tetapi juga menopang kehidupan ribuan keluarga petani.

“Kita harus melihat bahwa petani tembakau di Madura ini bukan sekadar pelaku ekonomi, tetapi bagian dari warga Nahdliyin yang selama ini turut menggerakkan roda perekonomian nasional,” ujar Qumri, Rabu (1/4/2026).

Dalam forum Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW GP Ansor Jawa Timur di Malang, lanjut dia, disampaikan bahwa penerimaan negara dari sektor cukai hasil tembakau pada 2024 mencapai Rp216,9 triliun. Angka tersebut melampaui sejumlah sektor strategis lainnya.

Ia merinci, tiga sektor utama penyumbang pendapatan negara meliputi cukai tembakau sebesar Rp216,9 triliun, sumber daya alam migas dan nonmigas sebesar Rp207 triliun, serta dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp85,8 triliun.

“Ini menunjukkan betapa besarnya kontribusi sektor tembakau terhadap negara. Namun ironisnya, kesejahteraan petani tembakau belum sepenuhnya terjamin,” kata dia.

Pengasuh Pondok Pesantren Tholaburridho Batuan, Sumenep itu menambahkan, Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar dalam sektor cukai tembakau nasional. Hal ini tidak terlepas dari kuatnya industri rokok di wilayah tersebut serta tingginya produksi tembakau, termasuk dari kawasan Madura.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) terus disalurkan ke daerah guna mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk petani. Namun, implementasi di lapangan dinilai masih perlu diperkuat agar manfaatnya benar-benar dirasakan.

Qumri, yang juga merupakan alumni Pesantren Sidogiri, menyebut mayoritas konsumen rokok di Indonesia berasal dari kalangan warga Nahdlatul Ulama. Karena itu, keberpihakan terhadap petani tembakau dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan warga Nahdliyin.

“Merokok telah menjadi bagian dari kultur di kalangan warga NU. Maka sudah selayaknya kita ikut ambil bagian dalam memastikan perputaran ekonomi dari sektor ini berpihak pada petani,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani tembakau, mulai dari menjaga stabilitas harga, melindungi hasil panen, hingga membuka akses distribusi yang lebih adil, khususnya bagi petani di Madura.

“Mari kita kawal bersama, mulai dari stabilitas harga pupuk, hasil panen, hingga keadilan bagi petani tembakau,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *