BeritaKesehatan

Anak-anak dan Lansia Terancam, Chikungunya Mengganas di Guluk-Guluk, Warga Desak Dinkes Lakukan Fogging

2835
×

Anak-anak dan Lansia Terancam, Chikungunya Mengganas di Guluk-Guluk, Warga Desak Dinkes Lakukan Fogging

Sebarkan artikel ini
Warga Desa Bragung khawatir terhadap penyebaran penyakit chikungunya yang menyerang anak-anak dan lansia, memicu demam tinggi, nyeri sendi, dan kelemahan fisik. Foto/Halodoc.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Warga Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, tengah diliputi kekhawatiran. Penyakit chikungunya dilaporkan semakin merajalela, menyerang anak-anak hingga lansia, memicu demam tinggi, nyeri sendi berkepanjangan dan kelemahan fisik yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Andi, salah seorang warga setempat, menyampaikan kegelisahannya kepada Kliktimes pada Jumat (1/10/2026). Menurutnya, penyebaran penyakit ini berlangsung cepat dan diduga diperparah oleh tingginya populasi nyamuk di sekitar permukiman.

“Sudah banyak warga yang sakit, terutama anak-anak dan orang tua. Demamnya tinggi, nyeri sendi parah, sampai lemas sekali. Kami sudah berusaha menjaga kebersihan dan melakukan 3M, tapi sepertinya itu belum cukup,” ujarnya.

Kekhawatiran warga pun semakin meningkat. Mereka mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep segera mengambil langkah nyata mulai dari pemeriksaan lapangan, pembasmian nyamuk hingga pelaksanaan fogging bila diperlukan.

“Kami berharap Dinkes segera datang dan melakukan pengecekan. Lingkungan harus dibersihkan, sarang nyamuk diberantas, dan fogging dilakukan kalau perlu. Jangan sampai penyakit ini makin meluas,” tambahnya.

Andi menyoroti faktor utama penyebaran chikungunya: kondisi lingkungan yang lembap dan banyak genangan air, tempat nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.

“Kalau lingkungan tetap begini, nyamuk makin banyak. Anak-anak main di luar, orang tua pun harus beraktivitas, risiko tertular jelas tinggi. Pemerintah harus turun tangan cepat,” jelasnya.

Tak hanya soal pembasmian nyamuk, Andi juga mengingatkan pentingnya sosialisasi dan edukasi kepada warga soal pencegahan mandiri yang efektif.

“3M itu penting, tapi harus diikuti pemantauan rutin dari pihak Dinkes. Jangan sampai warga hanya mengandalkan diri sendiri,” tegasnya.

Kendati begitu, kekhawatiran Andi kian meningkat seiring tingginya angka warga yang terjangkit chikungunya di desanya. Ia menekankan, langkah cepat dari Dinas Kesehatan menjadi hal yang sangat krusial untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas dan melindungi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

“Kalau fogging dan pembasmian sarang nyamuk tidak segera dilakukan, kasus chikungunya bisa menyebar lebih luas dan membahayakan anak-anak serta lansia di desa kami,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *