OPINI | KLIKTIMES.ID – Aktivis bajingan adalah manusia berbaju aktivis yang justru membunuh harapan petani tembakau dan industri kecil di Madura.
Belakangan, ada satu jenis suara yang paling bising: aktivis yang berbicara tanpa pijakan di tanah kelahirannya sendiri. Mereka didukung media, menulis tanpa data yang utuh, lalu dengan percaya diri menyimpulkan keadaan.
Mereka berdiri di podium dengan nada moral paling tinggi, lalu dengan ringan menyebut Madura sebagai “lumbung rokok ilegal.”
Kalimat itu mungkin terdengar gagah di ruang seminar. Tapi di desa-desa kami, kalimat itu adalah peluru. Itu bukan kritik, melainkan stempel. Bukan analisis, melainkan vonis.
Dan seperti biasa, yang ditembak bukan sistem. Yang perlahan mati adalah petani tembakau dan industri rakyat.
Madura bukan pabrik gelap seperti yang dibayangkan dalam laporan setengah matang. Madura adalah rumah—tempat orang-orang menanam tembakau dengan harapan sederhana: dapur tetap menyala, anak tetap sekolah, dan hidup tidak runtuh oleh kebijakan yang tak pernah benar-benar berpihak.
Lalu apa yang dilakukan “aktivis” ini?
Mereka datang, menunjuk, melapor, lalu pergi.
Seperti pemadam kebakaran yang justru membawa bensin.
Kita tidak menutup mata: rokok ilegal itu ada.
Dan tidak ada orang waras yang membenarkan pelanggaran hukum.
Namun yang lebih tidak waras adalah membangun narasi seolah-olah rokok ilegal lahir semata dari keserakahan, tanpa pernah menguliti sebabnya.
Mengapa praktik itu tumbuh?
Karena negara hadir seperti algojo, bukan pelindung.
Regulasi dibuat seperti pagar tinggi, tetapi tanpa pintu masuk bagi rakyat kecil. Petani tembakau dipaksa hidup dalam sistem yang mahal untuk dipatuhi, namun murah untuk dihukum.
Harga ditekan.
Akses dipersulit.
Legalitas dipagari biaya dan birokrasi.
Ketika rakyat mencari celah untuk bertahan hidup, mereka justru dilabeli kriminal. Dan aktivis—yang seharusnya membela—malah menjadi pengeras suara tuduhan.
Lebih ironis lagi, media ikut menari.
Tanpa riset lapangan.
Tanpa membaca ekosistem.
Tanpa membedakan pelaku besar dan petani kecil yang terseret arus.
Cukup satu narasi: “Madura = ilegal.”
Selesai.
Judul naik.
Engagement tinggi.
Empati mati.
Ini bukan jurnalisme. Ini produksi stigma yang merusak Madura.
Pertanyaannya sederhana, namun menyakitkan:
Apakah mereka pernah duduk bersama petani yang gagal panen? Yang harga tembakaunya dipermainkan oleh oligarki?
Apakah mereka tahu berapa banyak tokoh pesantren yang diam-diam menopang ekonomi tembakau agar tidak jatuh ke tangan kartel besar?
Apakah mereka pernah membaca upaya serius para kiai dalam menyusun naskah akademik Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau Madura—yang justru bertujuan menarik industri ini keluar dari bayang-bayang ilegalitas?
Atau mereka hanya hafal nama, angka, dan jargon, tanpa pernah menyentuh manusia di baliknya?
Aktivis sejati adalah jembatan, bukan algojo sosial.
Ia menghubungkan rakyat dengan kebijakan, bukan menjual rakyat demi popularitas.
Ia menggugat sistem, bukan menumbalkan komunitasnya sendiri.
Jika memang ada dugaan keterlibatan aparat atau permainan dalam struktur, dorong sampai ke akar. Bongkar kebijakan yang menindas. Paksa negara hadir sebagai solusi.
Itulah kerja aktivis.
Bukan sekadar menyebut nama, membuat gaduh, lalu meninggalkan luka yang harus ditanggung oleh saudara sendiri.
Mari kita jujur:
Menyerang pengusaha kecil dan petani dengan label “ilegal” bukanlah keberanian. Itu kemalasan intelektual yang dibungkus moralitas.
Masalah rokok ilegal bukan sekadar soal hukum, melainkan soal ekosistem yang timpang. Selama negara lebih gemar menindak daripada membina, selama legalitas hanya ramah bagi pemain besar, dan selama petani dibiarkan sendirian menghadapi pasar, maka praktik di wilayah abu-abu akan terus hidup.
Dan setiap kali aktivis atau media datang tanpa empati, tanpa data, tanpa solusi, mereka tidak sedang memperbaiki keadaan.
Mereka sedang mempercepat kematian.
Bukan kematian industri—melainkan kematian harapan petani di rumahnya sendiri.
Madura tidak butuh penghakiman.
Madura butuh keadilan.
Kami tidak menolak hukum.
Kami menolak hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas, lalu dipropagandakan sebagai kebenaran tunggal.
Jadi sebelum menyebut tanah kelahiran sendiri sebagai “lumbung ilegal,” cobalah bertanya:
Siapa yang menciptakan kondisi ini?
Siapa yang diuntungkan?
Dan siapa yang terus-menerus dijadikan korban?
Karena yang paling berbahaya hari ini bukan sekadar rokok ilegal, melainkan aktivisme yang kehilangan nurani dan media tanpa data yang kehilangan akal sehat.
*) Fauzi As, Pengamat kebijakan publik.












