BeritaPendidikan

MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning Hadirkan Pendidikan Berkeadilan, Sasar Yatim dan Duafa

51
×

MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning Hadirkan Pendidikan Berkeadilan, Sasar Yatim dan Duafa

Sebarkan artikel ini
Tim Kemenag Pamekasan melakukan monitoring dan verifikasi pengajuan izin operasional MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning sebagai madrasah berorientasi pendidikan berkeadilan bagi yatim dan duafa. Foto/Anam.

PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Di tengah kegelisahan publik terhadap arah pendidikan nasional yang kerap tersandera logika angka, kompetisi semu, dan ketimpangan akses, kehadiran Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kyai Mudrikah Kembang Kuning menawarkan narasi lain tentang pendidikan sebagai ruang harapan dan keberpihakan sosial.

Harapan itu mengemuka dalam proses monitoring dan verifikasi pengajuan izin operasional madrasah yang dilakukan oleh Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan. Kegiatan tersebut dipimpin Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Pamekasan KH Badrus Shomad, S.Ag., M.Pd.I, bersama Operator Kabupaten Jamik Iyah, SE, serta tim verifikator.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Achmad Muhlis, menilai proses tersebut bukan sekadar tahapan administratif, melainkan penanda lahirnya sebuah institusi pendidikan dengan visi sosial yang jelas.

“Ini bukan hanya prosedur birokrasi. Ini momentum sosial yang menandai hadirnya lembaga pendidikan yang berpihak dan berkeadilan,” ujar Muhlis, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, pendirian MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning mencerminkan fungsi pendidikan sebagai instrumen mobilitas sosial. Madrasah ini secara tegas menyasar peserta didik dari keluarga tidak mampu, yatim, dan duafa—kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan dari akses pendidikan bermutu.

Dalam konteks itu, madrasah tidak semata berperan sebagai tempat transfer ilmu, melainkan sebagai agen korektif atas ketimpangan struktural yang lahir dari faktor ekonomi, geografis, dan sosial.

“Pilihan membuka akses pendidikan murah dan terjangkau menunjukkan kesadaran bahwa kemiskinan bukan kegagalan individu, tetapi produk relasi sosial yang timpang,” jelasnya.

Muhlis juga menilai langkah ini sebagai bentuk resistensi halus terhadap komersialisasi pendidikan, sekaligus penegasan bahwa pendidikan agama memiliki mandat moral untuk membela kelompok rentan.

Lebih jauh, keberpihakan pada peserta didik yatim dan duafa dinilai membawa dampak psikologis yang signifikan. Menurut Muhlis, anak-anak dari latar belakang rentan kerap memikul beban psikologis berupa rendah diri, kecemasan masa depan, hingga pengalaman eksklusi sosial.

“Madrasah ini tidak hanya menyediakan ruang belajar kognitif, tetapi juga ruang pemulihan psikologis. Pendidikan menjadi proses restorasi martabat,” paparnya.

Inisiatif one student one laptop yang diusung madrasah ini juga dinilai strategis. Bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu, akses teknologi bukan sekadar sarana belajar, tetapi simbol pengakuan atas kesetaraan potensi.

“Itu membangun self-efficacy dan kesiapan mental menghadapi dunia digital,” tambahnya.

Dalam pandangannya, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning berhasil mengintegrasikan nilai keislaman, keadilan sosial, dan literasi teknologi dalam satu ekosistem pendidikan. Tradisi pesantren dan teknologi tidak dipertentangkan, melainkan diposisikan sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi.

Model ini, kata Muhlis, sejalan dengan pedagogi transformatif, di mana pendidikan dipahami sebagai proses pembebasan dan pemanusiaan, bukan sekadar reproduksi pengetahuan.

“Kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari kelengkapan dokumen, tetapi dari visi sosial dan nilai keberpihakan yang diusung,” tegasnya.

Di tengah masyarakat Madura yang kuat dengan tradisi pesantren dan solidaritas komunal, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning dinilai memiliki potensi menjadi simpul sosial baru menghubungkan pendidikan, pengasuhan, dan pengabdian sosial dalam satu napas.

“Madrasah seperti ini tidak hanya mencetak lulusan, tapi membentuk generasi yang sadar bahwa ilmu harus berpihak dan teknologi harus beretika,” terang Muhlis.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa pendirian madrasah ini merupakan ikhtiar kolektif mengembalikan pendidikan pada hakikatnya.

“Anak-anak miskin tidak butuh belas kasihan, mereka butuh kesempatan. Dan pendidikan yang dikelola dengan visi sosial, psikologis, dan pedagogis yang utuh adalah bentuk kesempatan paling bermartabat,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *