Olahraga

Jejak Produksi Rokok Turbo-Merah Delima Diduga Bermuara di PR Cahaya Ku, Aktivis Desak Keterbukaan

48
×

Jejak Produksi Rokok Turbo-Merah Delima Diduga Bermuara di PR Cahaya Ku, Aktivis Desak Keterbukaan

Sebarkan artikel ini
PR Cahaya Ku di Desa Akkor, Pamekasan, diduga menjadi satu jalur produksi rokok merek Turbo dan Merah Delima yang kini memicu sorotan publik terkait transparansi. Foto/di.

PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Di balik perbedaan merek dan kemasan yang beredar di pasaran, jejak produksi rokok bermerek Turbo dan Merah Delima diduga bermuara pada satu titik yang sama. Keduanya disebut-sebut diproduksi di pabrik PR Cahaya Ku yang berlokasi di Desa Akkor, Dusun Batu Labeng, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Secara kasat mata, Turbo dan Merah Delima tampil sebagai dua produk dengan identitas berbeda. Mulai dari desain kemasan, segmentasi konsumen hingga narasi promosi, keduanya seolah berada di jalur yang terpisah.

Namun, berdasarkan penelusuran pewarta Kliktimes, kedua merek tersebut diketahui berasal dari satu fasilitas produksi yang sama. Fakta ini pun memunculkan tanda tanya di ruang publik khususnya terkait pengawasan serta kendali kewenangan di balik praktik tersebut.

Kendati demikian, PR Cahaya Ku diduga memegang kendali utama atas seluruh proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga distribusi awal ke pasaran.

Aktivis Pamekasan, Faynani, menilai bahwa keterbukaan informasi menjadi kunci utama dalam polemik ini. Menurutnya, persoalan bukan terletak pada satu pabrik yang memproduksi banyak merek, melainkan pada kejujuran informasi kepada konsumen.

“Bukan soal satu pabrik atau banyak merek. Yang paling penting adalah kejujuran informasi. Konsumen berhak tahu apa yang mereka beli dan dari mana asalnya,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam praktik industri modern, satu fasilitas produksi kerap dimanfaatkan untuk menghasilkan beberapa merek sekaligus sebagai strategi ekspansi pasar dan efisiensi biaya operasional.

“Praktik penggunaan lebih dari satu merek dalam satu pabrik sejatinya bukan hal baru dalam dunia industri. Strategi ini kerap digunakan untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas tanpa harus membangun lini produksi terpisah,” ujarnya.

Meski dinilai sah secara bisnis, Faynani menegaskan bahwa praktik tersebut kerap menuai sorotan ketika informasi yang disampaikan kepada publik dianggap tidak utuh dan kurang transparan.

“Meski sah secara bisnis, pola semacam ini sering kali menjadi sorotan ketika informasi yang disampaikan kepada publik dinilai tidak utuh dan kurang transparan,” pungkasnya.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait relasi produksi antara Turbo, Merah Delima, dan PR Cahaya Ku. Namun satu hal terungkap, ketiganya berada dalam satu jalur produksi yang sama, sehingga memicu tuntutan publik akan kejelasan dan transparansi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *