Hiburan

Hujan 20 The Sultan di D’ Academy 7 Tuai Polemik, Prestasi Murni atau Rekayasa Digital?

115
×

Hujan 20 The Sultan di D’ Academy 7 Tuai Polemik, Prestasi Murni atau Rekayasa Digital?

Sebarkan artikel ini
Fenomena hujan 20 gift The Sultan memicu polemik dan perdebatan publik terkait transparansi dukungan digital dalam ajang D’ Academy 7 Indosiar. Foto/Net.

KLIKTIMES.ID – Ajang pencarian bakat Dangdut Academy bergulir panas menjadi pusat perhatian warganet. Namun kali ini, sorotan publik tidak sepenuhnya tertuju pada kualitas vokal para finalis, melainkan pada fenomena dukungan digital yang dinilai janggal.

Nama Tasya, kontestan yang akhirnya keluar sebagai juara pertama D’ Academy 7, mendadak ramai diperbincangkan usai menerima dukungan luar biasa berupa 20 gift The Sultan dalam satu malam. Dukungan fantastis tersebut langsung mengerek posisinya di klasemen dan menjadi faktor krusial dalam penentuan hasil akhir kompetisi.

Fenomena 20 The Sultan Picu Tanda Tanya

Dalam siaran langsung grand final, suasana studio yang semula tegang berubah menjadi riuh ketika layar notifikasi dipenuhi kiriman gift The Sultan. Tak tanggung-tanggung, tercatat 20 akun berbeda memberikan gift dengan nilai poin yang sama dan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.

Bagi penonton awam, gift The Sultan merupakan simbol dukungan dan popularitas. Namun bagi netizen yang lebih jeli, kemunculan puluhan gift premium secara beruntun untuk satu peserta justru memunculkan tanda tanya besar. Publik mulai mempertanyakan, apakah dukungan tersebut murni datang dari penggemar nyata atau justru hasil rekayasa digital.

Identitas Pengirim Jadi Sorotan

Kecurigaan semakin menguat setelah daftar nama pengirim gift beredar luas di media sosial. Sejumlah akun dengan nama seperti Leonard Kevin, William Nando, Jeremy Ginting, hingga Valentino Domenic menjadi sorotan utama.

Sebagian netizen menilai nama-nama tersebut terkesan seragam dan tidak mencerminkan basis penggemar dangdut pada umumnya.

“Nama-namanya kebarat-baratan dan mirip pola akun anonim,” tulis salah satu unggahan viral yang ramai dibagikan.

Penggunaan identitas yang dinilai tidak lazim itu memunculkan dugaan bahwa akun-akun tersebut bukanlah penggemar organik, melainkan akun tertentu yang sengaja disiapkan untuk kepentingan tertentu.

Dugaan Manipulasi dan Desakan Transparansi

Munculnya 20 The Sultan secara bersamaan memicu spekulasi mengenai adanya upaya sistematis untuk mendongkrak perolehan poin Tasya. Sejumlah hal yang menjadi bahan gunjingan netizen antara lain:

  • Keseragaman nominal, di mana banyak akun memberikan jumlah poin yang sama persis.
  • Waktu pengiriman, yang terjadi hampir bersamaan.
  • Latar belakang akun, yang dituding berpotensi merupakan akun bayaran atau bahkan bot.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran soal keadilan kompetisi. Pendukung kontestan lain menilai persaingan menjadi tidak sehat jika hasil akhir lebih ditentukan oleh perang modal digital ketimbang kualitas penampilan dan dukungan riil masyarakat.

Respons Publik Terbelah

Hingga kini, kolom komentar di berbagai platform resmi Dangdut Academy masih dipenuhi tuntutan klarifikasi. Sebagian pendukung Tasya membela bahwa idolanya memang layak mendapatkan dukungan besar berkat kualitas penampilan yang konsisten.

Namun di sisi lain, suara-suara yang mempertanyakan keabsahan dan identitas para pemberi gift terus bergulir. Polemik ini pun menjelma menjadi bola salju yang semakin membesar.

Kini, sorotan publik tertuju pada pihak penyelenggara. Apakah fenomena 20 The Sultan akan dianggap sebagai bentuk dukungan sah dalam ekosistem kompetisi digital, atau justru menjadi catatan hitam soal transparansi ajang pencarian bakat dangdut terbesar di Tanah Air?

Satu hal yang pasti, integritas Dangdut Academy kini tengah diuji di mata netizen Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *