BeritaDaerah

Warga Dusun Tabata Gotong Royong Perbaiki Jalan Rusak, Kecewa Janji Kades Tak Kunjung Terwujud

1190
×

Warga Dusun Tabata Gotong Royong Perbaiki Jalan Rusak, Kecewa Janji Kades Tak Kunjung Terwujud

Sebarkan artikel ini
Warga Dusun Tabata, Desa Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, bergotong royong memperbaiki jalan rusak secara swadaya dengan material dan peralatan seadanya. Foto/Klik Times.

SUMENEP | KLIKTIMES.ID – Warga Dusun Tabata, Desa Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, secara swadaya bergotong royong memperbaiki jalan rusak di wilayah mereka, Rabu (17/12/2025). Perbaikan dilakukan dengan cara patungan dana untuk membeli material serta menggunakan peralatan seadanya.

Aksi tersebut terpaksa dilakukan lantaran kondisi jalan yang kian memprihatinkan dan dinilai telah lama dikeluhkan warga. Minimnya perhatian dari pemerintah desa menjadi alasan utama warga turun tangan secara mandiri.

Salah seorang warga, Zakinal Ulum, mengatakan kerusakan jalan sudah berlangsung cukup lama dan semakin parah seiring waktu.

“Jalannya sudah lama rusak dan semakin parah. Kami sudah berkali-kali mengajukan permohonan kepada kepala desa, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya.

Menurut Zakinal, warga sebenarnya telah bersabar menunggu adanya perbaikan dari pihak desa. Namun, janji yang disampaikan tidak pernah diikuti dengan tindakan nyata di lapangan.

“Kami sudah bosan menunggu. Yang kami terima hanya janji. Tidak pernah ada tindak lanjut,” tegasnya.

Dengan keterbatasan yang ada, warga akhirnya berinisiatif memperbaiki jalan secara mandiri. Mereka bahu-membahu menambal dan meratakan ruas jalan demi menunjang aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Ini jalan utama warga. Digunakan untuk ke sawah, ke kebun, dan juga akses anak-anak ke sekolah. Kalau dibiarkan, risikonya semakin besar,” kata Zakinal.

Ia menegaskan bahwa gotong royong tersebut dilakukan bukan semata keinginan, melainkan karena keterpaksaan.

“Kami tidak menolak gotong royong. Tapi seharusnya ini menjadi tanggung jawab pemerintah desa. Masa warga terus yang menambal jalan sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Zakinal mengungkapkan sempat ada pihak luar yang berniat membantu memperbaiki jalan melalui proyek tertentu. Namun rencana tersebut terkendala perizinan dari pihak desa.

“Ada yang mau membantu memperbaiki, tapi tidak jadi karena tidak mendapat izin. Katanya jalan itu mau diperbaiki oleh desa. Nyatanya sampai sekarang tidak ada,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat warga semakin kecewa dan mempertanyakan transparansi serta koordinasi pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan.

“Kami hanya ingin kejelasan. Kalau memang mau diperbaiki, kapan? Jangan hanya janji,” katanya.

Warga Dusun Tabata berharap pemerintah desa dapat bersikap lebih terbuka dan akuntabel, serta segera mengambil langkah konkret agar akses jalan dapat digunakan secara layak dan aman.

“Permintaan kami sederhana. Kami hanya ingin jalan yang bisa dilewati dengan nyaman. Itu hak kami sebagai warga desa,” pungkas Zakinal.

Sementara itu, Kepala Desa Ketawang Laok, Khosnul Fatimah, menegaskan bahwa pemerintah desa tidak tinggal diam dan tetap berupaya memenuhi kebutuhan warga sesuai dengan skala prioritas.

“Saya sangat bersyukur atas kepedulian dan perhatian warga terhadap desa kami,” ujar Khosnul Fatimah saat dikonfirmasi Klik Times.

Ia juga mengapresiasi kegiatan gotong royong yang dilakukan warga Dusun Tabata sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

“Mengenai kegiatan gotong royong di Dusun Tabata, saya ucapkan terima kasih. Itu menunjukkan adanya kesadaran warga untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong,” tegasnya.

Terkait anggapan bahwa permintaan warga tidak diindahkan, Khosnul Fatimah membantah hal tersebut.

“Pendapat bahwa permintaan warga tidak dipedulikan itu salah besar. Semua aspirasi warga kami tampung. Namun tetap harus berdasarkan asas musyawarah dan pekerjaan dilakukan sesuai skala prioritas,” jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa hasil musyawarah desa memutuskan penundaan perbaikan jalan di Dusun Tabata karena tingkat penggunaan jalan tersebut dinilai lebih rendah dibandingkan dusun lainnya.

“Setelah kami turun langsung dan melakukan pengecekan, pengguna jalan tersebut hanya sekitar tiga kepala keluarga. Itu yang menjadi pertimbangan kami,” tandasnya.

Khosnul Fatimah juga menyampaikan alasan belum dapat turun langsung ke lokasi karena kondisi kesehatan.

“Saya sebenarnya ingin turun langsung, tetapi kondisi kesehatan saya belum pulih sepenuhnya dan masih dalam perawatan,” bebernya.

Meski demikian, ia menegaskan pemerintah desa tetap berkomitmen melakukan perbaikan secara bertahap.

“Kami tetap mengupayakan yang terbaik untuk warga. Namun mohon bersabar karena keterbatasan anggaran dan semua harus menunggu giliran,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *