Opini

Membangun Kedaulatan Epistemik: Analisis Marxis sebagai Pisau Bedah Awal bagi Aktivisme Perempuan dalam Mendobrak Dogma Agama

118
×

Membangun Kedaulatan Epistemik: Analisis Marxis sebagai Pisau Bedah Awal bagi Aktivisme Perempuan dalam Mendobrak Dogma Agama

Sebarkan artikel ini
Nor Hasanah, Waka 1 Kopri STITA.

OPINI | KLIKTIMES.ID – Sebagai seorang aktivis perempuan yang bergerak dalam arus Islam progresif, saya menyadari bahwa keterbatasan kita dalam memproduksi pengetahuan bukanlah sekadar kelemahan teknis. Ia merupakan bentuk kapitulasi intelektual yang secara perlahan justru menggerogoti visi emansipatoris gerakan itu sendiri. Tanpa fondasi epistemologis yang otonom, gerakan perempuan berisiko terjebak dalam sebuah paradoks yang menyedihkan: berteriak melawan patriarki, tetapi menggunakan kerangka berpikir yang justru dipinjam dari sistem yang menindas.

Dalam konteks inilah analisis Marxis perlu dihadirkan, bukan sebagai dogma baru, melainkan sebagai pisau bedah epistemologis yang tajam dan mendesak, khususnya sebelum kita memasuki medan perdebatan agama. Pisau ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan teologi, melainkan untuk membangun fondasi materialis yang memungkinkan kita membaca agama secara kritis, tanpa terjebak dalam idealisme naif dan ahistoris.

Saya berpandangan bahwa sebelum kader-kader KOPRI mendalami feminisme, mereka perlu terlebih dahulu mempelajari analisis Marxis. Langkah ini penting agar kader mampu membangun pembacaan yang tajam terhadap realitas, terutama dalam melihat bagaimana struktur material ekonomi, kelas, dan relasi produksi membentuk serta melanggengkan ketidakadilan gender, termasuk ketidakadilan yang kerap terselubung dalam tafsir dan praktik keagamaan.

Hanya dengan fondasi materialis yang kokoh, kita dapat membongkar dogma agama bukan semata pada tataran teks atau simbol, melainkan hingga ke akar sosial-historis yang melahirkannya. Dengan demikian, perjuangan melawan patriarki tidak berhenti pada kritik normatif atau moralistik, tetapi menyentuh inti persoalan: sistem dan relasi kuasa yang menindas dan mereproduksi ketimpangan secara struktural.

Dengan menggunakan pisau bedah Marxis ini, KOPRI berpeluang melampaui posisinya sebagai sekadar gerakan moral. Ia dapat menjelma menjadi gerakan yang sadar secara epistemik mampu membongkar kontradiksi internal dalam narasi agama, menelusuri kepentingan material di balik dogma, serta membangun kedaulatan pengetahuan yang benar-benar membebaskan.

*) Nor Hasanah, Waka 1Kopri STITA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *