BeritaDaerahNasional

Sepekan Tanpa Jawaban, GPR Tuduh Bea Cukai Madura Tidak Bekerja dan Makan Gaji Buta

129
×

Sepekan Tanpa Jawaban, GPR Tuduh Bea Cukai Madura Tidak Bekerja dan Makan Gaji Buta

Sebarkan artikel ini
Kantor Bea Cukai Madura. Foto/Net.

PAMEKASAN | KLIKTIMES.ID – Audiensi Gerakan Pemuda Republik (GPR) dengan Bea Cukai Madura pada Selasa (16/9/2025) berujung tanpa kepastian. Hingga kini, tuntutan mereka terkait dugaan pelanggaran pita cukai oleh pabrikan rokok “Cahaya Pro” belum mendapatkan jawaban memuaskan dari pihak otoritas.

Dalam forum tersebut, GPR menyoroti praktik dugaan salah tempel pita cukai yang dinilai merugikan masyarakat. Mereka mendesak Bea Cukai mengambil langkah tegas, sebab rokok “Cahaya Pro” dengan dugaan pelanggaran cukai itu masih marak beredar di wilayah Madura, terutama di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan.

“Kalau semua persoalan hanya dijawab dengan pasal, lantas untuk apa ada lembaga pengawasan.Publik tidak butuh sekadar penjelasan di atas kertas, tapi tindakan nyata di lapangan. Karena rokok yang diduga bermasalah itu masih bebas dijual, artinya ada celah pengawasan yang tidak tertutup,”ujar salah seorang peserta audiensi.

Ketua GPR, Firdaus Muza, menilai Bea Cukai gagal menunjukkan komitmen serius dalam menindaklanjuti persoalan tersebut. Ia menegaskan sudah lebih dari sepekan tuntutan mereka tak digubris, sementara rokok “Cahaya Pro” yang diduga melanggar aturan cukai masih bebas beredar.

“Coba bayangkan, masyarakat bayar pajak tiap hari, tapi aparat yang digaji dari pajak itu malah diam seribu bahasa. Kalau begini, Bea Cukai jangan-jangan lebih sibuk mengurus meja rapat daripada mengurus masalah rakyat,” ujarnya dengan nada satir.

Firdaus juga menyinggung soal marwah institusi. Menurutnya, publik berhak menilai Bea Cukai hanya menjadi penonton dalam praktik pelanggaran yang ada di lapangan.

“Ini bukan soal satu bungkus rokok, tapi soal keberanian negara hadir di hadapan rakyat. Kalau cuma bisa lempar aturan tanpa aksi nyata, ya sama saja pura-pura kerja,” katanya.

Lebih jauh, ia menuding Bea Cukai kehilangan rasa malu.

“Negara kok kalah sama pabrikan rokok. Sementara rakyat kecil tiap hari diburu kalau salah jualan. Ironinya, yang besar aman sentosa. Kalau dibiarkan, ini bukan lagi kegagalan, tapi kelihatan seperti pembiaran yang disengaja,” tegas Firdaus.

Firdaus menambahkan, jawaban normatif tidak bisa lagi dijadikan tameng.

“Kalau terus main alasan prosedur, berarti mereka hanya jadi robot regulasi. Lupa kalau gaji yang mereka terima bukan dari prosedur, tapi dari keringat rakyat. Jadi jangan salahkan kalau rakyat mulai anggap mereka cuma makan gaji buta,” pungkasnya.

Sementara itu, Humas Bea Cukai Madura, Mega Truh dalam forum tersebut menyatakan akan menindaklanjuti hasil temuan yang disampaikan GPR. Pihaknya menegaskan seluruh langkah yang dilakukan tetap mengacu pada regulasi yang berlaku serta membuka ruang komunikasi lanjutan.

Di sisi lain, GPR menyebut tengah menyiapkan langkah lanjutan, termasuk opsi menggelar aksi susulan agar aspirasi mereka benar-benar diperhatikan.

Hingga berita ini diterbitkan, pewarta masih berupaya meminta keterangan resmi kepada Humas Bea Cukai Madura terkait hasil penindakan dugaan pelanggaran pita cukai rokok “Cahaya Pro”, namun belum juga mendapat tanggapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *