OPINI | KLIKTIMES.ID – Mahasiswa baru, selamat datang di dunia kampus. Ruang ini bukan tempat mencari gelar, tetapi medan untuk menguji akal sehat, integritas, dan keberanian. Surat ini ditulis bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membuka kesadaran. Dunia kampus mempunyai ruang yang luas, penuh kesempatan, tetapi juga sarat jebakan. Salah satu jebakan sering muncul dari senior atau kakak tingkat yang bermental sok kuasa, mereka yang tampil seolah-olah memegang kunci masa depanmu.
Setiap awal tahun ajaran, selalu ada figur yang mendekati mahasiswa baru dengan narasi seolah mereka adalah jalan tercepat menuju pengakuan, jabatan, dan kesuksesan. Mereka menawarkan posisi strategis, akses ke lingkaran tertentu, atau menjanjikan kemudahan bila mengikuti arahan mereka.
Namun, kenyataannya tidak ada seorang pun, apalagi sebuah entitas kampus, yang bisa menjamin kesuksesan seseorang. Kesuksesan lahir dari proses panjang, refleksi kritis, dan keberanian untuk berdiri di atas pilihan yang diyakini. Senior yang menjual mimpi instan sejatinya sedang mengurung maba dalam logika pengikut, bukan membentuk mereka sebagai pemikir bebas yang bebas menentukan arah dan jalan yang ingin mereka tentukan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebiasaan mendoktrin mahasiswa baru agar “ikut jalan kami” adalah bentuk perampasan kebebasan berpikir. Alih-alih memperkenalkan mahasiswa pada budaya akademik, mereka justru diarahkan menjadi pion dalam agenda sempit. Bahaya dari pola ini bukan hanya pada hilangnya kebebasan, tetapi juga pada terciptanya generasi baru yang terbiasa tunduk tanpa refleksi.
Mahasiswa harus berani bertanya,apakah benar jalan yang ditawarkan itu? Atau justru hanya jebakan yang menjerumuskan pada loyalitas buta? Ingatlah, mahasiswa sejati tidak didefinisikan oleh seberapa cepat ia meraih jabatan, melainkan seberapa dalam ia berpikir dan seberapa berani ia bersikap kritis
Di sinilah relevansi peringatan Soe Hok Gie perlu untuk kembali digaungkan dan diingatkan dengan nada yang keras “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditindas, tetapi menindas jika berkuasa.”
Kutipan yang bukan sekadar refleksi masa lalu, akan tetapi potret nyata hari ini yang tak bisa terelakan. Ada mahasiswa yang dulu mengeluh keras tentang senioritas dan penindasan, namun ketika mereka berada di posisi seniornya, mereka justru mengulang pola yang sama. Maba pun lagi-lagi dijadikan objek, bukan subjek untuk mencapai agenda sempit sebagaimana dimaksud.
Kampus bukanlah ruang untuk menuruti doktrin siapa pun. Kampus adalah ruang belajar, mengasah akal sehat, dan membangun jati diri intelektual. Karena itu, mahasiswa harus berani menentukan jalan sendiri. Ikut organisasi boleh, berjejaring itu penting, tetapi jangan sampai kehilangan kedaulatan pikiran dan kebebasan menentukan arah dan target menjadi mahasiswa, selama ber-mahasiswa di kampus UIN Madura.
Jalan yang akan dipilih harus berangkat dari analisis panjang, refleksi kritis, dan keberanian melawan hal-hal yang tidak wajar. Jangan takut berbeda. Jangan takut berjalan sendirian jika memang itu yang benar. Sebab, loyalitas tertinggi seorang mahasiswa bukan kepada senior, bukan kepada kelompok, melainkan kepada kebenaran dan nurani intelektual (keberanian sejati).
Surat ini adalah ajakan serius untuk selalu mengedepankak sikap dan pengambilan tindakan secara berhati-hati sekaligus berani. Hati-hati terhadap jebakan senioritas yang menyamar sebagai bimbingan, dan beranilah menempuh jalan intelektualmu sendiri. Karena hanya dengan itu, kamu bisa benar-benar menjadi mahasiswa yang merdeka. Merdeka secara intelektual dan merdeka secara tindakan.
Ini mungkin bisa menjadi bekal bagi mahasiswa baru, berpikirlah dengan intuisi nurani kalian, bersikaplah dengan keteguhati nurani kalian, dan menolaklah untuk tunduk pada mentalitas sok kuasa dari senior yang membelenggu jiwa, pikiran dan tindakan kalian selama menjadi mahasiswa baru.
Salam hormat untuk mahasiswa baru dan seluruh senioritas yang sok bermental kuasa.
***
**) Opini Ditulis oleh Moh. Syurul, Mahasiswa UIN Madura sekaligus Kader Aktif HMI Komisariat Insan Cita
**) Tulisan Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak termasuk tanggung jawab media klik Times.id
**) Rubrik terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
**) Artikel Dikirim ke email resmi redaksikliktimes@gmail.com.
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirimkan apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Klik Times.id.